Sorot Indonesia – Muhammad Rafif Arsya Maulidi, seorang siswa dari SMK NU Miftahul Falah di Kudus, Jawa Tengah, menarik perhatian publik setelah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam surat tersebut, Rafif menyatakan penolakannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggapnya kurang tepat. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya mengalami intimidasi dari oknum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah suratnya viral di media sosial.
Rafif menjelaskan bahwa penolakan terhadap program MBG dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap kesejahteraan guru honorer yang masih menerima gaji minim. “Saya melihat guru-guru honorer di Kudus, termasuk guru saya, belum sejahtera,” ujarnya saat diwawancarai di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta. Ia menilai alokasi dana untuk program tersebut yang mencapai lebih dari enam juta rupiah selama masa sekolahnya seharusnya bisa dialokasikan untuk meningkatkan gaji guru honorer.
Sejak program MBG diluncurkan, Rafif mengaku tidak pernah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang disediakan. Ia menegaskan, “Saya tidak pernah mengambil makanan dari program itu sejak awal.” Sikapnya ini mencerminkan konsistensi terhadap prinsip yang dipegangnya mengenai keadilan bagi para pendidik.
Namun, di balik aksi berani Rafif, terdapat cerita mengenai intimidasi yang ia alami. Ia mengaku di-tag dalam unggahan akun media sosial yang diduga berasal dari pegawai SPPG, yang memicu perlindungan dari Wakil Hak Asasi Manusia, Mugiyanto Sipin. Rafif mengatakan, “Ini hanya untuk melindungi saya karena ada intimidasi secara virtual setelah surat saya viral.” Meskipun demikian, Rafif menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan adanya perbedaan pendapat mengenai program MBG.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan kebijakan yang diperkenalkan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak di Indonesia. Namun, program ini telah menuai banyak kritik terkait efektivitas dan pengelolaannya. Mahasiswa di berbagai daerah, termasuk Malang, juga menggelar demonstrasi menolak program tersebut, menganggapnya sebagai pemborosan anggaran negara. Dalam aksi tersebut, mahasiswa berteriak, “Tolak MBG, Tolak Program yang Tidak Jelas!”
Rafif berharap agar anggaran yang dialokasikan untuk program MBG dapat dialihkan untuk sektor pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Ia juga berharap agar suara siswa dan mahasiswa didengar oleh pemerintah, agar program-program yang diluncurkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks ini, alasan siswa SMK kirim surat terbuka ke Prabowo, tolak program MBG & akui diintimidasi oknum SPPG [titlebase] menunjukkan bahwa suara generasi muda berperan penting dalam mengawasi dan mengkritisi kebijakan publik demi masa depan yang lebih baik. Rafif, dengan keberaniannya, menjadi contoh bagi siswa-siswa lain untuk menyuarakan pendapat dan memperjuangkan hak-hak mereka serta orang-orang di sekitar mereka.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
