Sorot Indonesia – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) memastikan bahwa Pemkot Surabaya tak temukan bukti ayah telantarkan anak yang viral di media sosial. Laporan warga yang menyebut seorang anak diajak mengamen hingga malam oleh ibunya telah ditelusuri. Tim DP3APPKB melakukan kunjungan ke rumah keluarga tersebut dan menemukan bahwa persoalan utama bukanlah penelantaran oleh ayah, melainkan kondisi ekonomi keluarga yang memaksa anak terlibat dalam aktivitas mencari nafkah di jalan.

Kasus ini mencuat setelah video seorang anak yang diajak mengamen pada malam hari tersebar luas di media sosial. Banyak warganet menduga adanya penelantaran oleh sang ayah. Namun, setelah dilakukan pendampingan dan penjangkauan, Pemkot Surabaya tak temukan bukti ayah telantarkan anak yang viral di media sosial. Yang ditemukan adalah keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Pemerintah kota tidak berhenti pada kesimpulan itu, tetapi langsung mengambil langkah intervensi.

Baca juga:

Kepala DP3APPKB Surabaya menjelaskan bahwa pihaknya menawarkan solusi berkelanjutan. “Kami tidak hanya menghentikan aktivitas anak di jalan, tetapi juga memberikan pelatihan keterampilan bagi orang tua, seperti menjahit dan rencana usaha makanan ringan, agar keluarga memiliki penghasilan alternatif,” ujarnya saat ditemui di kantor dinas, Selasa (29/9/2026). Pendekatan ini diambil agar akar masalah tidak terulang.

Dalam penanganan kasus serupa, penting untuk membedakan antara anak yang bekerja dan pekerja anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menegaskan bahwa aktivitas ringan yang sesuai usia dan tidak mengganggu pendidikan serta tumbuh kembang tidak serta-merta masuk kategori pekerja anak. Sebaliknya, pekerjaan yang membahayakan atau mengganggu pendidikan dan perkembangan anak harus ditangani serius. Mengamen hingga malam hari masuk dalam kategori yang perlu perhatian khusus karena jalan raya bukan lingkungan yang ramah anak.

Durasi berada di ruang publik, keselamatan, kelelahan, paparan cuaca, risiko kekerasan, kehilangan waktu belajar, hingga tekanan psikologis menjadi pertimbangan utama. Anak yang membantu keluarga tidak otomatis dapat disebut sebagai pekerja anak, namun ketika aktivitas tersebut mengorbankan hak-hak dasar anak, negara harus hadir. Pemkot Surabaya tak temukan bukti ayah telantarkan anak yang viral di media sosial, tetapi temuan itu justru membuka jalan untuk intervensi yang lebih tepat sasaran.

Langkah Pemkot Surabaya ini sejalan dengan prinsip perlindungan anak yang holistik. Perlindungan bukan sekadar memindahkan anak dari jalan ke rumah, melainkan memastikan alasan yang membuat anak berada di jalan ikut ditangani. Pemerintah kota juga menggandeng berbagai pihak untuk memastikan keluarga tersebut mendapatkan pendampingan psikologis dan bantuan sosial yang layak. Dengan demikian, anak dapat kembali ke lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Perlu pengawasan berkelanjutan agar keluarga tidak kembali pada pola lama. Sosialisasi kepada masyarakat juga penting agar tidak mudah menghakimi orang tua yang kesulitan ekonomi, tetapi tetap waspada terhadap potensi pelanggaran hak anak. Masyarakat diimbau melaporkan jika melihat anak yang berada di jalan pada malam hari tanpa alasan yang jelas, agar dapat segera ditangani oleh dinas terkait.

Kesimpulannya, Pemkot Surabaya tak temukan bukti ayah telantarkan anak yang viral di media sosial. Yang ditemukan adalah persoalan ekonomi yang membutuhkan solusi menyeluruh. Pendekatan yang dilakukan pemerintah kota patut diapresiasi karena tidak sekadar menyalahkan orang tua, tetapi memberikan jalan keluar melalui pelatihan keterampilan dan bantuan usaha. Ke depan, diharapkan kasus serupa tidak terulang dan setiap anak di Surabaya dapat menikmati haknya untuk belajar, bermain, dan tumbuh tanpa harus berada di jalanan pada malam hari.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.