Sorot Indonesia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak banyak membahas keamanan kecerdasan buatan (AI) dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu. Dalam sebuah acara di Washington, Selasa (29/9/2026), Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini berada di posisi terdepan dalam pengembangan AI sehingga tidak perlu terburu-buru melakukan pembahasan mendalam dengan China. Pernyataan ini menegaskan sikap Trump yang enggan memperlambat inovasi AI, meskipun banyak pihak menyerukan perlunya regulasi global. Trump akui tak banyak bahas keamanan AI dengan Xi Jinping, sebut AS harus tetap memimpin menjadi sorotan utama dalam pernyataannya tersebut.
“Kami membicarakannya, tetapi tidak terlalu banyak karena saya tidak ingin melakukan apa pun. Kami memimpin, jadi mengapa saya harus melakukan sesuatu?” kata Trump. Ia menambahkan bahwa banyak pihak menyarankan agar AS mengembangkan AI bersama China, namun ia khawatir kerja sama tersebut justru akan memberikan akses cepat bagi China terhadap teknologi yang belum mereka kuasai. Sikap ini mempertegas posisi Trump yang ingin mempertahankan dominasi teknologi AS tanpa intervensi regulasi yang ketat.
Pernyataan Trump akui tak banyak bahas keamanan AI dengan Xi Jinping, sebut AS harus tetap memimpin muncul hanya beberapa hari setelah kedua negara menyepakati pembukaan dialog mengenai risiko dan manfaat AI. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (25/9/2026), Trump dan Xi menyetujui delapan poin konsensus, termasuk pembentukan Dialog Kecerdasan Super AS-China yang dijadwalkan bertemu pada November 2026. Kesepakatan tersebut juga mencakup jalur komunikasi bilateral khusus untuk menangani insiden terkait AI. Namun, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terlalu jauh membahas masalah keamanan karena AS sudah unggul.
Setelah bertemu dengan sekitar 20 pemimpin perusahaan AI dan teknologi besar AS di Gedung Putih, Trump kembali menyatakan keengganannya untuk mengatur pengembangan teknologi tersebut. “Saya pikir saya melihat pengawasan mandiri yang luar biasa, dan mereka memahami bahwa mereka harus melakukan pengawasan mandiri,” ujarnya. Trump juga mengumumkan bahwa dirinya bersama sejumlah peserta telah menandatangani kesepakatan AI yang disebutnya “mengikat secara moral”. Dokumen tersebut mendorong perusahaan pengembang model AI terdepan untuk menerapkan praktik keselamatan, termasuk pengendalian internal yang kuat guna mencegah peretasan yang tidak disengaja dan risiko lainnya, serta bekerja sama dengan pihak ketiga untuk penilaian independen.
Enam perusahaan besar—Anthropic, Google, Meta, Nvidia, OpenAI, dan xAI—menandatangani kesepakatan sukarela tersebut. Mereka juga sepakat untuk bertemu secara berkala guna mengembangkan standar dan praktik terbaik dalam meningkatkan keamanan sistem AI. Meski demikian, kesepakatan ini tidak mengikat secara hukum dan hanya bersifat moral, sehingga menuai kritik dari berbagai pihak yang menginginkan regulasi lebih tegas.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengumumkan rencana untuk mengganti istilah “artificial intelligence” menjadi “super intelligence” (SI). Menurutnya, istilah AI sudah memiliki konotasi buruk di mata publik, terutama setelah maraknya insiden sistem AI yang bertindak di luar kendali, PHK massal, disinformasi, hingga konsumsi energi data center yang sangat besar. “Hari ini sekitar pukul 5 sore, kami akan menandatangani dokumen untuk mengganti nama ‘artificial intelligence’, karena ini bukan artifisial, kita semua sepakat tentang hal itu,” ujar Trump. Ia bahkan mengklaim sempat membahas ide rebranding ini dengan Xi Jinping, yang disebutnya “tampak menyukai” gagasan tersebut.
Pertemuan Trump dan Xi sendiri menghasilkan delapan poin konsensus yang mencakup pemangkasan tarif timbal balik untuk produk non-sensitif senilai 30 miliar dolar AS (sekitar Rp537 triliun), kerja sama energi, pertahanan, serta pengawasan obat-obatan. Kedua negara juga berkomitmen untuk memperpanjang gencatan perang dagang hingga 10 Januari 2027. Meski demikian, isu keamanan AI tampaknya tidak menjadi prioritas utama dalam pembicaraan tersebut, sebagaimana diakui Trump.
Pengamat menilai sikap Trump yang enggan membahas keamanan AI secara mendalam dengan China mencerminkan strategi AS untuk tetap memimpin dalam perlombaan teknologi global. Di sisi lain, China terus mengembangkan AI dan robotika melalui dukungan kuat dari negara, industri berbasis riset, serta perguruan tinggi. Persaingan kedua negara adidaya dalam bidang AI diprediksi akan semakin intensif dalam sepuluh tahun ke depan, terutama karena AI akan menjadi teknologi kunci yang menentukan kekuatan ekonomi dan geopolitik.
Dengan pernyataan Trump akui tak banyak bahas keamanan AI dengan Xi Jinping, sebut AS harus tetap memimpin, jelas bahwa Washington tidak ingin terikat oleh kesepakatan internasional yang dapat memperlambat laju inovasinya. Sementara itu, Beijing tampaknya terus memanfaatkan dialog yang telah disepakati untuk memperoleh wawasan tentang perkembangan AI di AS. Ke depan, dunia akan menyaksikan bagaimana kedua negara menyeimbangkan antara persaingan dan kerja sama di bidang kecerdasan buatan, yang akan menjadi penentu arah tatanan global.
Sebagai kesimpulan, meskipun AS dan China telah menyepakati dialog mengenai risiko dan manfaat AI, pernyataan Trump menunjukkan bahwa keamanan AI bukanlah prioritas utama dalam hubungan bilateral keduanya. AS bertekad mempertahankan posisinya sebagai pemimpin dalam pengembangan AI, sementara China terus berupaya mengejar ketertinggalan. Dinamika ini akan membentuk lanskap teknologi dan geopolitik dunia di masa depan, dengan AI sebagai medan pertarungan utama.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
