Sorot Indonesia – Fenomena Super El Nino yang masih berlangsung di Indonesia tidak hanya mengancam produksi pangan, tetapi juga mengguncang sektor energi nasional. Di tengah ancaman mati listrik bergilir, segini batu bara yang dibakar untuk menerangi Indonesia menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab dengan data. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kehilangan debit air akibat musim kemarau panjang, sehingga beban pasokan listrik mau tidak mau dialihkan ke pembangkit berbahan bakar batu bara yang terus menyala siang dan malam.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mengubah pola cuaca global. Sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, Filipina, dan sebagian India, mengalami kondisi jauh lebih kering karena berkurangnya curah hujan. El Nino 2026 diperkirakan memiliki intensitas sangat kuat sehingga peneliti iklim menyebutnya sebagai “Super El Nino”, meski istilah ini bersifat informal.

Baca juga:

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Petugas pemantauan di Waduk Wonorejo, Tulungagung, Jawa Timur, mencatat elevasi muka air waduk berada di level 165,67 meter SHVP atau sekitar 5,7 meter di bawah pola operasi sebesar 171,3 meter. Kondisi ini memaksa pengelola menyesuaikan distribusi air irigasi dan operasional PLTA yang pasokannya terus menurun.

Ketika pasokan energi bersih dari PLTA anjlok, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara menjadi tulang punggung kelistrikan. Di sinilah relevansi pembahasan mati listrik bergilir, segini batu bara yang dibakar untuk menerangi Indonesia semakin terasa. Setiap penurunan pasokan hidro berarti tambahan ratusan ribu ton batu bara yang harus dibakar untuk menjaga sistem kelistrikan tetap stabil.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengungkapkan bahwa sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel mulai terdampak kekurangan pasokan air. “Beberapa tempat sudah mulai merasakan dampak kekurangan pasokan air akibat periode musim kering yang panjang ini,” ujarnya. Persebaran smelter nikel sebagian besar berada di Sulawesi dan Maluku Utara, dengan wilayah Sulawesi sebagai yang paling terdampak.

Gangguan tidak berhenti di pertambangan. Distribusi bahan bakar minyak (BBM) juga terganggu karena transportasi air mengalami kesulitan akibat debit sungai yang menyusut. Kondisi ini memperkuat urgensi pembahasan mati listrik bergilir, segini batu bara yang dibakar untuk menerangi Indonesia sebagai isu strategis nasional.

Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto tengah mendorong hilirisasi batu bara melalui teknologi Coal-to-Liquid (CTL) untuk memproduksi bensin batubara. Prosesnya dimulai dengan memasukkan batu bara padat ke dalam reaktor gasifier, lalu direaksikan dengan oksigen dan uap air pada suhu serta tekanan tinggi. Hasilnya adalah gas sintesis (syngas) yang mengandung karbon monoksida dan hidrogen, yang kemudian diproses menjadi metanol sebelum akhirnya dikonversi menjadi bensin cair.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Sudirman Widhy, menegaskan bahwa teknologi CTL sudah teruji di Afrika Selatan dan Tiongkok. Namun, ia mengingatkan bahwa hambatan utama bukan pada teknologi, melainkan pada keekonomian. Biaya modal dan operasional proyek CTL sangat raksasa sehingga berisiko tinggi bagi investor swasta.

Selain soal biaya, riset ABC News menunjukkan penggunaan bensin berbahan batu bara dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibandingkan bensin biasa. Artinya, upaya memperkuat ketahanan energi nasional berpotensi berbenturan dengan komitmen pengurangan emisi karbon.

Aspek Dampak Super El Nino
PLTA Debit air turun, pasokan energi bersih berkurang
Smelter nikel Kekurangan air, produksi dipangkas
Distribusi BBM Transportasi air terganggu
PLTU batu bara Beban pembakaran meningkat

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa batu bara berkalori rendah dapat diolah menjadi minyak maupun gas demi menjaga ketersediaan energi di tengah gejolak geopolitik dunia. Langkah ini diambil menyusul keberhasilan program biodiesel B50 yang diklaim berhasil menghentikan impor solar sejak 1 Juli 2026.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa ketergantungan pada batu bara sebagai penopang utama kelistrikan memiliki konsekuensi jangka panjang. Ketika wacana mati listrik bergilir, segini batu bara yang dibakar untuk menerangi Indonesia kembali mencuat, publik berhak mengetahui berapa besar konsumsi batu bara yang dibutuhkan untuk menutup defisit pasokan energi bersih.

Dengan cadangan batu bara yang melimpah, Indonesia memang memiliki modal untuk menjaga pasokan listrik. Namun, tanpa diversifikasi energi yang serius, ancaman mati listrik bergilir akan terus membayangi setiap kali musim kemarau panjang datang. Diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan batu bara, percepatan energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya air yang bijak agar ketahanan energi nasional benar-benar kokoh menghadapi tantangan iklim di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.