Sorot Indonesia – Ucapan Prabowo soal Londo Ireng berbahaya bagi demokrasi, Formappi: Ketidaksukaan ini kerap diulang. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah ‘londo ireng’ dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah menciptakan gelombang protes dari kalangan jurnalis dan masyarakat sipil. Dalam pidato tersebut, Prabowo mengaitkan istilah ini dengan individu-individu yang dianggap lebih mengabdi kepada kepentingan asing daripada kepentingan bangsa sendiri.

Istilah ‘londo ireng’, yang berasal dari bahasa Jawa, secara harfiah berarti ‘Belanda Hitam’. Awalnya, istilah ini merujuk pada tentara asal Afrika Barat yang direkrut oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, dalam konteks modern, istilah ini lebih sering digunakan untuk melabeli orang-orang yang dianggap berkolaborasi dengan kepentingan asing. Penggunaan istilah ini oleh Prabowo tidak hanya merendahkan profesi jurnalis, tetapi juga berpotensi memperburuk iklim kebebasan pers di Indonesia.

Baca juga:

Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon membela Prabowo dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah bentuk humor. Fadli mengklaim bahwa Prabowo memiliki karakter humoris dan tidak bermaksud menyakiti. Namun, bagi para jurnalis, komentar ini tidak bisa dianggap sepele. Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, menilai bahwa pelabelan tersebut merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan pers dan fungsi kritis media dalam demokrasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebebasan pers di Indonesia memang menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Kasus kekerasan terhadap jurnalis meningkat, dan praktik swasensor di ruang redaksi semakin menguat. Menurut peneliti, pemimpin populis cenderung melemahkan media yang berpotensi mengganggu narasi pemerintah, dan ucapan Prabowo ini tampaknya sejalan dengan tren tersebut.

Pihak Istana menjelaskan bahwa istilah ‘londo ireng’ tidak ditujukan kepada masyarakat umum, melainkan kepada kelompok-kelompok yang dinilai suka membuat kegaduhan dan pesimisme. Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa istilah tersebut merupakan pengingat untuk memperkuat persatuan dan optimisme di kalangan rakyat. Namun, banyak yang meragukan niat di balik pernyataan tersebut, mengingat konteks penggunaannya yang sering disertai dengan penyerangan terhadap jurnalis.

Di tengah protes yang berkembang, puluhan wartawan dari berbagai organisasi pers melakukan aksi unjuk rasa di Sampang. Mereka menuntut Prabowo untuk meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap menyudutkan profesi jurnalis. Demonstrasi ini menyoroti betapa seriusnya dampak dari ucapan Prabowo soal Londo Ireng, yang banyak dipandang sebagai simbol dari kemunduran demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

Melihat segala protes dan kritik yang muncul, penting untuk mengingat bahwa kebebasan pers merupakan salah satu pilar utama dalam demokrasi. Penyerangan terhadap jurnalis dan pelabelan negatif seperti ‘londo ireng’ dapat menciptakan suasana ketakutan dan membatasi ruang gerak pers. Ini adalah tantangan serius bagi demokrasi Indonesia yang harus dihadapi dengan bijak oleh semua pihak.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.