Sorot Indonesia – Menteri Pertahanan AS klaim telah menerapkan blokade besi di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa Iran tidak bisa setop operasi.
Menurut sumber, pasukan AS menembak jatuh dua drone Iran yang diduga hendak menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (11/6/2026) waktu setempat. Pejabat AS mengatakan bahwa drone tersebut berhasil dicegat sebelum menimbulkan gangguan terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan itu.
Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir. Trump menyebut bahwa kesepakatan tersebut bisa ditandatangani “segera, mungkin akhir pekan ini”.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, AS dan Iran justru kembali saling melancarkan serangan di berbagai wilayah Timur Tengah untuk hari kedua berturut-turut.
Menteri Pertahanan AS klaim telah menerapkan blokade besi di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa Iran tidak bisa setop operasi. Blokade besi ini merupakan langkah yang sangat serius untuk menghentikan kegiatan ekonomi Iran.
Menurut analis, blokade besi di Selat Hormuz dapat menyebabkan kerusakan besar pada perekonomian Iran. Selat Hormuz adalah salah satu rute pelayaran yang paling penting di dunia, dan Iran merupakan salah satu negara yang paling tergantung pada lalu lintas ini.
Berdasarkan laporan, Filipina telah mengalami kesulitan energi nasional karena kekurangan minyak mentah dari Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Teluk Hormuz dapat terjadi di halaman rumah kita sendiri, dengan skala kerusakan yang jauh lebih besar.
Hormuz dan Laut China Selatan berbagi tiga ciri struktural yang membuat keduanya rawan menjadi instrumen penyanderaan ekonomi global. Pertama, konsentrasi arus perdagangan. Hormuz menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kedua, kedua wilayah ini memiliki jalur pelayaran yang sangat strategis. Selat Hormuz dan Laut China Selatan merupakan rute pelayaran yang sangat penting bagi negara-negara di Asia dan Eropa.
Ketiga, kedua wilayah ini memiliki potensi konflik yang sangat tinggi. Konflik di Selat Hormuz dapat menyebabkan kerusakan besar pada perekonomian global, dan konflik di Laut China Selatan dapat menyebabkan kerusakan besar pada hubungan antara negara-negara di Asia.
Menteri Pertahanan AS klaim telah menerapkan blokade besi di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa Iran tidak bisa setop operasi. Blokade besi ini merupakan langkah yang sangat serius untuk menghentikan kegiatan ekonomi Iran.
Berdasarkan laporan, Filipina telah mengalami kesulitan energi nasional karena kekurangan minyak mentah dari Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Teluk Hormuz dapat terjadi di halaman rumah kita sendiri, dengan skala kerusakan yang jauh lebih besar.
