Sorot Indonesia – Bencana Kekeringan 45 Desa di Pati Kekurangan Pasokan Air Bersih menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati. Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengungkapkan bahwa puluhan desa yang tersebar di sepuluh kecamatan kini menghadapi krisis air bersih dan telah mengajukan permohonan bantuan pengadaan air bersih ke pemerintah daerah.

“Dari beberapa desa yang baru muncul di minggu ini, maka kurang lebih sudah ada 45 desa di Kabupaten Pati yang tersebar di 10 kecamatan,” terang Martinus kepada awak media, Sabtu, 26 September 2026.

Baca juga:

Adapun sepuluh kecamatan yang terdampak meliputi Batangan, Juwana, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Gabus, Kayen, dan Dukuhseti. Sejumlah desa baru yang dilaporkan mulai kesulitan air bersih di antaranya Desa Bakalan dan Ngagel di Kecamatan Dukuhseti, serta Desa Klayusiwalan, Pecangaan, dan Tlogomojo di Kecamatan Batangan.

Pemetaan Wilayah Terdampak Terus Diperbarui

Martinus menjelaskan, pihaknya terus melakukan pemetaan terhadap desa-desa yang mulai melaporkan kekurangan pasokan air bersih. Menurutnya, tiga desa di Kecamatan Batangan menjadi tambahan terbaru yang masuk dalam daftar wilayah terdampak.

“Ada tiga desa yang baru di wilayah Kecamatan Batangan itu Desa Pecangaan, Desa Klayusiwalan, dan Desa Tlogomojo. Sedangkan wilayah Pati sebelah utara di Kecamatan Dukuhseti, ada Desa Ngagel yang sudah kita atensi, tetapi infonya Desa Bakalan pun sudah mulai kesulitan air bersih,” paparnya.

Ia menambahkan, bencana kekeringan 45 desa di Pati kekurangan pasokan air bersih ini diprediksi masih akan meluas seiring belum turunnya hujan di wilayah Pantura Timur. BPBD pun menyiapkan langkah mitigasi berupa dropping air bersih ke titik-titik yang paling membutuhkan.

BMKG Prediksi Hujan Baru Turun Pertengahan November

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan baru akan turun di Kabupaten Pati pada pertengahan November 2026 mendatang. Kondisi ini berpotensi menambah jumlah desa yang terdampak kekeringan.

“Maka dimungkinkan jumlah desa akan bertambah, karena untuk wilayah Pantura Timur meliputi Kabupaten Pati, Blora, dan Rembang, perkiraan hujan baru datang pada pertengahan November,” ungkap Martinus.

Berikut rincian wilayah kecamatan yang terdampak bencana kekeringan 45 desa di Pati kekurangan pasokan air bersih:

No Kecamatan Keterangan
1 Batangan Desa Klayusiwalan, Pecangaan, Tlogomojo
2 Juwana Wilayah pesisir terdampak
3 Jaken Krisis air bersih
4 Jakenan Krisis air bersih
5 Pucakwangi Krisis air bersih
6 Winong Krisis air bersih
7 Tambakromo Krisis air bersih
8 Gabus Krisis air bersih
9 Kayen Krisis air bersih
10 Dukuhseti Desa Bakalan, Ngagel

Dampak Sosial dan Ekonomi Warga

Krisis air bersih yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga aktivitas pertanian dan peternakan warga. Sejumlah petani mengaku kesulitan mengairi sawah, sementara warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air layak konsumsi.

Pemerintah Kabupaten Pati melalui BPBD berkomitmen menyalurkan bantuan air bersih secara berkala. Selain itu, koordinasi dengan instansi terkait, seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan dinas sosial, terus dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan tepat sasaran.

Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan sumber air alternatif yang masih tersedia. Pemerintah desa juga diminta segera melaporkan jika ada warga yang mengalami kesulitan air bersih agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Antisipasi dan Harapan ke Depan

BPBD Kabupaten Pati mengimbau seluruh pihak untuk bersiap menghadapi puncak musim kemarau. Langkah antisipasi seperti pembuatan sumur bor, penampungan air hujan, dan distribusi tangki air menjadi solusi jangka pendek yang terus diupayakan.

Bencana kekeringan 45 desa di Pati kekurangan pasokan air bersih ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dinilai krusial untuk mengurangi dampak krisis air di masa mendatang.

Dengan perkiraan hujan yang baru turun pada pertengahan November 2026, seluruh pemangku kepentingan diharapkan tetap waspada dan sigap membantu warga terdampak. Penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci agar bencana kekeringan 45 desa di Pati kekurangan pasokan air bersih tidak berlarut-larut dan menimbulkan dampak yang lebih luas.

Sebagai kesimpulan, krisis air bersih yang melanda 45 desa di 10 kecamatan Kabupaten Pati membutuhkan perhatian serius semua pihak. Upaya dropping air bersih, pemetaan wilayah, serta edukasi penghematan air harus terus digalakkan hingga musim hujan tiba. Tanpa langkah bersama, dampak kekeringan bisa semakin memperburuk kualitas hidup warga di wilayah Pantura Timur.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.