Sorot Indonesia – Assam, India Timur, mengalami bencana banjir yang sangat parah, mengakibatkan 97 orang tewas dan sekitar 170.000 warga terpaksa mengungsi. Banjir ini dianggap sebagai salah satu bencana alam terburuk dalam beberapa tahun terakhir di wilayah tersebut. Hujan lebat yang terus menerus membuat Sungai Brahmaputra dan anak-anak sungainya meluap, menenggelamkan rumah-rumah dan lahan pertanian hingga lebih dari 14.000 hektar.
Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, terlihat menghibur orang tua seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang kehilangan nyawanya saat mencoba menyelamatkan anjing peliharaannya. Dalam video yang diunggahnya, ia mengekspresikan kepedihan mendalam, menegaskan bahwa tidak ada orang tua yang seharusnya mengucapkan selamat tinggal kepada anak mereka.
Lebih jauh, Menteri Kesehatan India, J.P. Nadda, yang melakukan kunjungan ke wilayah terdampak, menyatakan bahwa skala kehancuran sangat besar dan pemulihan akan memakan waktu. “Desa demi desa telah terendam,” katanya kepada wartawan. Banyak warga yang terpaksa mencari tempat aman di pusat-pusat evakuasi yang didirikan oleh pemerintah setempat.
Di sisi lain, di Jepang, Topan Dolphin juga memicu ancaman banjir. Pemerintah Jepang telah meminta hampir 260 ribu warga di Kagoshima dan Okinawa untuk mengungsi, seiring dengan pergerakan topan yang membawa angin kencang dan hujan lebat. Lebih dari 500 penerbangan domestik dibatalkan, dan sembilan pabrik Toyota terpaksa menghentikan operasionalnya akibat dampak cuaca buruk ini.
Banjir pesisir juga menjadi perhatian di Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir rob dari 8 hingga 11 Agustus 2026. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap fenomena cuaca ini, yang diprediksi akan meningkat seiring dengan ketinggian muka air laut.
Sementara itu, revitalisasi Danau Bakuok di Riau yang dulunya merupakan aliran sungai mati kini telah menjelma menjadi destinasi wisata yang juga berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir. Dengan kapasitas tampungan air yang meningkat dari 7 hektar menjadi 21 hektar, diharapkan dapat mengurangi potensi banjir di kawasan sekitarnya.
Dengan berbagai kejadian ini, terlihat jelas bahwa perubahan iklim berdampak besar pada frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir. Di seluruh dunia, baik di India maupun Jepang, masyarakat harus menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan pembangunan yang tidak terencana dengan baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
