Sorot Indonesia – Sungai Barito bukan sekadar urat nadi kehidupan bagi masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah. Aliran sungai terpanjang di Kalimantan ini menjadi saksi berbagai peristiwa, mulai dari geliat olahraga, aktivitas keagamaan, hingga tragedi hilangnya warga. Dalam sepekan terakhir, berbagai kejadian menyita perhatian publik di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Barito, menunjukkan betapa sentralnya peran sungai ini dalam denyut kehidupan masyarakat.

Di Banjarmasin, Stadion 17 Mei menjadi pusat perhatian menjelang laga pekan keempat Pegadaian Championship 2026/27 antara Barito Putera melawan Persela Lamongan, Minggu (4/10/2026). Pelatih Barito Putera, Hendri Susilo, menyoroti ketatnya persaingan di Grup B. Menurutnya, seluruh klub yang tergabung di grup tersebut memiliki kualitas dan persiapan matang untuk menghadapi kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia. Antusiasme suporter pun kian meningkat, terlebih Bank Kalsel mengumumkan 10 pemenang #PantunChallenge yang berhak mendapatkan tiket gratis menonton laga tersebut. Kesepuluh pemenang, yang diumumkan melalui akun Instagram resmi Bank Kalsel, diharapkan segera melakukan verifikasi untuk mengambil hadiah. Langkah ini menjadi salah satu bentuk dukungan dunia usaha terhadap olahraga daerah, seiring dengan semangat membangun prestasi dari tepian Sungai Barito.

Baca juga:

Sementara itu, di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Pemerintah Kabupaten HST menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Dwi Warna, Kamis (1/10/2026). Upacara yang berlangsung dari pukul 08.15 hingga 09.00 WITA ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Bupati HST Samsul Rizal bertindak sebagai Inspektur Upacara, didampingi Wakil Bupati H. Gusti Rosyadi Elmi, Ketua DPRD HST H. Pahrijani, serta unsur Forkopimda. Sekitar 700 peserta dari TNI, Polri, ASN, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat turut hadir. Rangkaian upacara berjalan khidmat, mulai dari penghormatan pasukan, mengheningkan cipta, pembacaan Teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, Naskah Ikrar, doa, hingga menyanyikan lagu Andika Bhayangkari. Peringatan ini menjadi momentum memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat, sejalan dengan nilai-nilai yang mengalir seperti air Sungai Barito yang tak pernah surut.

Di sisi lain, kepedulian terhadap pembangunan keagamaan juga terus mengalir. Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran memberikan bantuan pribadi berupa uang tunai Rp20 juta kepada pengurus Masjid Besar Ar Rahman Jihi Desa Mambulung, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur. Bantuan diserahkan oleh Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo usai melaksanakan ibadah Shalat Jumat, Jumat (2/2/2024). “Kedatangan kami untuk bersilaturahmi serta melihat aktivitas masyarakat,” ujar Edy Pratowo. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan masjid dan semakin memberi dampak positif bagi masyarakat. Selain itu, Wagub juga memantau pelaksanaan pasar penyeimbang di Kecamatan Pematang Karau untuk membantu warga pasca-bencana banjir, yang tak jarang dipicu oleh luapan anak-anak sungai di DAS Barito.

Namun, di balik berbagai aktivitas tersebut, Sungai Barito juga menyimpan duka. Dua warga Barito Utara, Bibin dan Siti, dilaporkan hilang saat memancing. Memasuki hari keempat pencarian, Senin (28/9/2026), tim SAR gabungan kembali menyisir kawasan hutan dan danau yang diduga menjadi lokasi terakhir kedua korban. Kepala Bidang Damkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Barito Utara, Tri Indra Hartono, mengatakan pencarian dilakukan setelah menerima laporan dari Pemerintah Desa Luwe Hulu. “Pencarian hari keempat dilakukan dengan melibatkan unsur gabungan bersama masyarakat dan keluarga korban,” kata Tri Indra Hartono. Penyisiran difokuskan dari lokasi ditemukannya sepeda motor milik korban, lalu bergerak menuju kawasan danau. Warga juga menemukan sebuah jaket yang diduga milik Siti, yang menjadi salah satu titik pemeriksaan. Di tengah pencarian, warga menemukan seekor ular berukuran sangat besar, diperkirakan panjangnya sekitar 10 meter, dan mengeksekusinya. Namun, tidak ditemukan petunjuk terkait keberadaan korban. Pencarian dihentikan saat kondisi mulai gelap, dan berdasarkan kesepakatan keluarga, akan dilaksanakan ritual balian. Hingga kini, keberadaan Bibin dan Siti masih misterius, dan tim gabungan berencana melanjutkan pencarian sesuai perkembangan di lapangan.

Dari hiruk-pikuk sepak bola, khidmatnya upacara Pancasila, kepedulian sosial keagamaan, hingga duka pencarian korban hilang, Sungai Barito tetap menjadi latar utama. Aliran sungai ini bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang bagi berbagai dinamika sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Kalimantan. Semua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Sungai Barito adalah denyut nadi yang menghubungkan berbagai aspek kehidupan, sekaligus cermin betapa eratnya hubungan manusia dengan alam di sekitarnya. Ke depan, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan terus terjalin untuk menjaga kelestarian Sungai Barito serta meningkatkan kesejahteraan warga yang menggantungkan hidup padanya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.