Sorot Indonesia – Nilai tukar rupiah lanjutkan pelemahan menuju level Rp 18.109, kasus ini diduga jadi sentimen negatif [titlebase]. Dalam sepekan terakhir, rupiah terus bertahan di atas angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada Rabu (8/7/2026), rupiah tercatat menembus level Rp 18.000, berada di posisi Rp 18.005 per dolar AS. Sepekan setelahnya, pada Rabu (15/7/2026), meskipun mengalami sedikit penguatan, rupiah masih tetap di atas level tersebut, yaitu Rp 18.068 per dolar AS. Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa fluktuasi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang kembali memanas setelah adanya serangan militer AS terhadap Iran, menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar rupiah. Iran merespons dengan serangan terhadap infrastruktur AS di kawasan, mengakibatkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia. Ibrahim menyoroti bahwa ketidakpastian ini berpotensi menjadikan nota kesepahaman yang ditandatangani sebelumnya tidak efektif dalam mengakhiri konflik.
Selain sentimen geopolitik, kondisi ekonomi AS juga turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS menunjukkan penurunan dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen year on year, yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Hal ini menciptakan dinamika baru dalam kebijakan suku bunga, yang dapat berdampak pada nilai tukar rupiah.
Dalam perdagangan yang berlangsung pada Selasa (14/7/2026), rupiah dibuka di level Rp 18.116 per dolar AS, mengalami penurunan 0,04 persen dibandingkan hari sebelumnya. Meski sempat menguat kembali di sore hari, rupiah tetap tidak mampu bangkit dari tekanan yang ada. Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa penguatan yang terjadi lebih bersifat artifisial, didorong oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) dan bukan oleh fundamental ekonomi yang kuat.
Ia menekankan bahwa kebijakan fiskal dan sektor belum berjalan optimal, sehingga belum mampu memperbaiki sentimen pasar terhadap rupiah. Di sisi lain, analis Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa jika kondisi ini berlanjut, rupiah bisa melemah hingga Rp 18.200 per dolar AS dalam waktu dekat. Kenaikan harga minyak global yang diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah, serta permintaan dolar yang meningkat untuk pembayaran dividen perusahaan asing di Indonesia, turut memengaruhi nilai tukar ini.
Dengan situasi yang masih tidak menentu, para ekonom memperingatkan bahwa pelemahan rupiah ini dapat berdampak pada perekonomian nasional, terutama terkait dengan defisit neraca transaksi berjalan yang sangat bergantung pada impor energi. Beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura telah menghapuskan subsidi energi, sementara Indonesia masih mempertahankan kebijakan subsidi, yang berpotensi memperburuk kelemahan rupiah.
Secara keseluruhan, rupiah lanjutkan pelemahan menuju level Rp 18.109, kasus ini diduga jadi sentimen negatif [titlebase] yang memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Ketidakpastian global yang terus meningkat akibat konflik geopolitik serta faktor fundamental yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan besar bagi perekonomian.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
