Sorot Indonesia – Pence ingatkan Trump: Perang dagang dengan Kanada bisa hantam ekonomi AS [titlebase] menjadi sorotan tajam di Washington setelah mantan Wakil Presiden Mike Pence menyuarakan kekhawatiran serius atas arah kebijakan perdagangan pemerintahan Donald Trump. Peringatan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Kanada yang dipicu oleh kegagalan perundingan perdagangan pada Agustus 2026 dan saling balas tarif yang mulai berlaku pada 8 September. Pence menilai bahwa konfrontasi dagang dengan sekutu terdekat di Amerika Utara berpotensi merugikan perekonomian domestik, terutama sektor manufaktur dan pertanian yang selama ini bergantung pada rantai pasok lintas batas.
Pernyataan Pence tersebut bukan tanpa dasar. Washington diketahui mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap sekitar 20 miliar dolar AS produk Kanada setelah perundingan gagal mencapai kesepakatan. Ottawa tidak tinggal diam dan membalas dengan tarif terhadap produk AS dengan nilai perdagangan yang kurang lebih sama. Langkah ini menandai babak baru dalam hubungan dua negara bertetangga yang selama puluhan tahun memiliki rantai pasok sangat terintegrasi. Dalam konteks inilah Pence ingatkan Trump: perang dagang dengan Kanada bisa hantam ekonomi AS [titlebase] menjadi semakin relevan, mengingat Kanada merupakan salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat.
Perubahan sikap Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut memperkeruh situasi. Setelah berbulan-bulan lebih banyak menahan diri, Carney kini semakin terbuka membalas sindiran Trump dengan humor dan pernyataan politik yang lebih tegas. Dalam pidato di hadapan anggota Partai Liberal di Ottawa pada 18 September 2026, Carney bahkan memperagakan gestur tangan khas Trump saat menjelaskan proyek energi bersih berkapasitas setara 18 Bendungan Hoover. Ia juga menyindir paket pajak dan belanja Trump yang disebut ‘big beautiful bill’, dengan mengatakan Kanada tidak memerlukan paket semacam itu, melainkan kebijakan yang lebih terarah.
Momen tersebut terlihat ringan, tetapi berlangsung di tengah perubahan serius dalam hubungan bilateral. Pada awal masa pemerintahannya, Carney memilih pendekatan hati-hati. Dalam pertemuan pertamanya dengan Trump di Ruang Oval pada 6 Mei 2025, ia menanggapi gagasan Trump menjadikan Kanada negara bagian ke-51 AS dengan senyum dan bahasa diplomatis. Kini, Ottawa semakin berani menunjukkan bahwa Kanada tidak akan menerima seluruh tuntutan Washington demi mendapatkan kesepakatan perdagangan. Pence ingatkan Trump: perang dagang dengan Kanada bisa hantam ekonomi AS [titlebase] menjadi pengingat bahwa eskalasi retorika dapat berujung pada kerugian nyata bagi kedua belah pihak.
Di sisi lain, pemerintahan Trump juga tengah menghadapi dinamika perdagangan dengan China. Setelah kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping selama tiga hari di Washington, kedua negara menyepakati delapan poin konsensus. Salah satunya adalah pemangkasan tarif timbal balik untuk produk non-sensitif senilai 30 miliar dolar AS atau setara Rp537 triliun. Kesepakatan ini akan dijalankan melalui Dewan Perdagangan AS-China dan Dewan Investasi AS-China yang dibentuk setelah KTT Beijing pada Mei 2026. Produk ekspor AS yang memperoleh perlakuan tarif khusus meliputi hasil pertanian, ikan dan makanan laut, kayu gelondongan, kosmetik, serta alat kesehatan. Sementara itu, barang impor AS yang mendapat keringanan mencakup peralatan kecil, mainan, dekorasi hari libur, dan kursi mobil anak.
Meski demikian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa gencatan senjata perdagangan hanya diperpanjang dua bulan hingga 10 Januari 2027. Beijing telah memenuhi persyaratan membeli 25 juta ton kedelai, namun masih tertinggal dari janji pembelian produk pertanian lain senilai 17 miliar dolar AS. Pengiriman mineral tanah jarang juga masih kurang. Ketidakpastian ini membuat perusahaan-perusahaan menghadapi ketidakstabilan karena tarif tetap lebih rendah untuk saat ini, tetapi keputusan bisnis harus dibuat dengan latar belakang kebijakan yang berubah-ubah.
Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping juga menekan Trump terkait isu Taiwan. Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa China berharap AS menangani masalah Taiwan dengan kehati-hatian dan secara tegas menentang kemerdekaan Taiwan. Permintaan ini lebih keras dari formulasi lama Washington yang hanya menyatakan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. Xi juga kembali menyinggung ‘Jebakan Thucydides’, teori yang menyatakan bahwa persaingan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan mapan cenderung berujung pada peperangan.
Kembali ke isu Kanada, peringatan Pence mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan politisi dan pelaku usaha AS. Perang dagang dengan Kanada tidak hanya berdampak pada hubungan diplomatik, tetapi juga pada stabilitas ekonomi domestik. Sektor otomotif, pertanian, dan energi menjadi yang paling rentan karena keterkaitan rantai pasok yang erat. Jika tarif terus meningkat, harga barang di pasar AS berpotensi naik, yang pada akhirnya membebani konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pence ingatkan Trump: perang dagang dengan Kanada bisa hantam ekonomi AS [titlebase] menjadi seruan agar Washington menempuh jalur negosiasi yang konstruktif.
Pemerintahan Trump dijadwalkan memiliki kesempatan lain untuk menyusun kesepakatan permanen dengan China pada dua pertemuan puncak multilateral di Shenzhen dan Miami sebelum akhir tahun. Namun, hingga saat itu tiba, ketidakpastian kebijakan perdagangan akan terus membayangi pasar global. Bagi Kanada, sikap tegas Carney menunjukkan bahwa Ottawa siap membalas tekanan tanpa menutup pintu diplomasi. Sementara bagi Amerika Serikat, peringatan Pence menjadi cermin bahwa konfrontasi dengan sekutu dapat menjadi bumerang bagi perekonomian sendiri.
Pada akhirnya, dinamika perdagangan AS-Kanada dan AS-China menunjukkan betapa kompleksnya lanskap ekonomi global saat ini. Kebijakan tarif yang agresif memang dapat menjadi alat negosiasi, tetapi jika tidak dikelola dengan bijak, ia berpotensi memicu perang dagang yang merugikan semua pihak. Pence ingatkan Trump: perang dagang dengan Kanada bisa hantam ekonomi AS [titlebase] adalah pengingat bahwa stabilitas ekonomi kawasan sangat bergantung pada kerja sama, bukan konfrontasi. Dunia menunggu langkah selanjutnya dari Washington dan Ottawa, apakah akan menempuh jalur dialog atau terus saling balas tarif yang hanya akan memperdalam kerugian.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
