Sorot Indonesia – Harga Pertamax Naik, Setkab Ungkap Sebagai Konsekuensi dari Perkembangan Minyak Dunia [titlebase]. Kebijakan ini diambil oleh PT Pertamina (Persero) yang efektif mulai 10 Juni 2026, dengan harga baru mencapai Rp16.250 per liter. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia yang telah meningkat sejak Maret 2026.

Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, menjelaskan bahwa Pertamax sebagai BBM nonsubsidi harus mengikuti dinamika pasar global. Dengan tidak adanya subsidi, harga Pertamax akan terus berfluktuasi seiring dengan perubahan harga minyak mentah internasional, yang saat ini berkisar antara 80 hingga 100 dolar AS per barel.

Baca juga:

Pakar ekonomi dari Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti, mengungkapkan bahwa kenaikan harga Pertamax diperkirakan akan menyumbang inflasi sekitar 0,3 hingga 0,7 poin. Proyeksi inflasi 2026 yang sebelumnya diperkirakan sekitar 2,6 persen, kini diperkirakan mencapai 3,3 persen setelah penyesuaian harga ini. Yayan menegaskan bahwa meskipun ada dampak inflasi, situasinya masih dalam batas terkendali, terutama jika harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar tidak mengalami kenaikan.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, juga menambahkan bahwa dampak inflasi dari kenaikan harga Pertamax terhadap perekonomian secara keseluruhan relatif terbatas. Hal ini memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak menganggap kenaikan harga BBM nonsubsidi ini sebagai ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional. Purbaya memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh tentang mekanisme kuota BBM bersubsidi, diserahkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Baca juga:

Di sisi lain, keputusan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Banyak yang mengkhawatirkan dampak kenaikan harga Pertamax terhadap daya beli masyarakat dan biaya operasional pelaku usaha. Namun, Eddy Soeparno meyakini bahwa dunia usaha akan dapat beradaptasi dengan kondisi ini. Pemerintah juga diharapkan memberikan insentif untuk mendukung stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Cerah, Agung Budiono, menyerukan perlunya pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan mendorong adopsi kendaraan listrik. Ia berpendapat bahwa langkah ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi fosil dan melindungi masyarakat dari gejolak harga minyak dunia.

Baca juga:

Pemerintah juga menegaskan bahwa meskipun harga Pertamax mengalami kenaikan, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar tetap dipertahankan untuk melindungi daya beli masyarakat. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter.

Dengan demikian, kebijakan harga Pertamax yang baru ini menjadi momentum bagi masyarakat kelas menengah untuk mengevaluasi gaya hidup mereka dan beradaptasi dengan situasi ekonomi yang terus berubah. Meskipun ada kekhawatiran akan dampak inflasi, para ahli menyatakan bahwa dampak tersebut masih dapat dikelola dalam batas yang wajar.