Sorot Indonesia – Suasana haru menyelimuti pemakaman Guruh Soekarnoputra di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 September 2026. Momen paling mengharukan terjadi ketika Megawati Soekarnoputri, kakak kandung almarhum, tak kuasa menahan tangis saat menyaksikan prosesi pemakaman adiknya. Megawati Menangis di Pusara Guruh Soekarnoputra menjadi sorotan utama dalam peristiwa duka yang menyelimuti keluarga besar Soekarno tersebut.
Sejak tiba di lokasi pemakaman, Megawati yang hadir bersama sejumlah anggota keluarga terlihat beberapa kali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Tatapan haru begitu kentara dari wajah Ketua Umum PDI Perjuangan itu ketika berada di sisi pusara Guruh. Momen Megawati Menangis di Pusara Guruh Soekarnoputra seakan menjadi simbol kehilangan mendalam seorang kakak terhadap adik yang telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Setelah jenazah Guruh Soekarnoputra dimakamkan, Megawati bersama adiknya, Sukmawati Soekarnoputri, menjadi orang pertama yang menaburkan bunga di atas pusara. Keduanya berjalan berdampingan menuju makam Guruh dengan didampingi Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Megawati dan Sukmawati kemudian menaburkan bunga serta menyiramkan air mawar ke makam adik mereka. Prosesi tersebut berlangsung penuh keheningan dan menjadi salah satu bagian paling emosional dalam rangkaian pemakaman Guruh.
Mata Megawati tampak berkaca-kaca ketika berdiri di hadapan pusara Guruh. Setelah Megawati dan Sukmawati selesai menaburkan bunga, anggota keluarga lain secara bergantian melakukan hal serupa sembari memanjatkan doa. Puan Maharani dan Prananda Prabowo turut mendampingi Megawati sepanjang prosesi pemakaman. Sejumlah politikus dan tokoh nasional yang hadir juga terlihat memberikan penghormatan terakhir kepada Guruh dengan menaburkan bunga di makamnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno turut menyampaikan eulogi dalam pemakaman tersebut. Dalam pidatonya, Rano menyebut kepergian Guruh sebagai kehilangan besar bagi Indonesia, khususnya bagi dunia seni dan kebudayaan. “Hari ini Indonesia kehilangan seorang seniman besar. Indonesia kehilangan seorang maestro budaya. Keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan pejuang partai dan kaum marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat,” tutur Rano. Ia juga mengenang Guruh sebagai sosok yang tidak sekadar dikenal karena statusnya sebagai putra Presiden Sukarno dan Fatmawati. Menurut dia, Guruh memilih membangun perjalanan hidupnya sendiri melalui dunia kebudayaan. “Mas Guruh adalah putra Bung Karno dan Ibu Fatmawati, tapi ia tidak memilih hanya hidup di bawah kebesaran nama orang tuanya. Ia memilih menciptakan jalannya sendiri dan jalan itu bernama kebudayaan,” tambahnya.
Sejumlah tokoh turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Guruh Soekarnoputra. Mereka di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Kehadiran para tokoh nasional tersebut menegaskan bahwa Guruh bukan hanya milik keluarga Soekarno, tetapi juga tokoh yang dihormati di berbagai kalangan. Dalam suasana duka itu, momen Megawati Menangis di Pusara Guruh Soekarnoputra kembali terlihat saat ia melepas kepergian adiknya dengan penuh cinta.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, sekitar pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta Selatan. Putra bungsu Presiden Sukarno dan Fatmawati tersebut mengembuskan napas terakhir dalam usia 73 tahun setelah sempat menjalani perawatan karena sakit. Kabar duka ini langsung menyebar luas dan mengundang simpati dari berbagai lapisan masyarakat. Banyak yang mengenang Guruh sebagai pribadi hangat dan seniman yang dedikasinya pada budaya tak perlu diragukan.
Sepanjang kariernya, Guruh dikenal sebagai sosok yang aktif di dunia seni, khususnya tari dan musik. Ia sering terlibat dalam berbagai pertunjukan budaya, baik di dalam maupun luar negeri. Dedikasinya terhadap pelestarian budaya bangsa membuat namanya tetap harum hingga akhir hayat. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para pengagum karyanya. Momen Megawati Menangis di Pusara Guruh Soekarnoputra pun menjadi pengingat betapa besar kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmat dan penuh penghormatan. Keluarga besar Soekarno, kerabat, serta para tokoh yang hadir tampak larut dalam doa. Meski duka menyelimuti, mereka berusaha tegar melepas kepergian Guruh. Setelah rangkaian upacara selesai, Megawati dan keluarga meninggalkan lokasi pemakaman dengan hati yang berat. Warisan kebudayaan yang ditinggalkan Guruh akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang.
Kesimpulannya, kepergian Guruh Soekarnoputra merupakan kehilangan besar bagi Indonesia, terutama di dunia seni dan budaya. Momen Megawati Menangis di Pusara Guruh Soekarnoputra menggambarkan kedalaman duka sekaligus cinta seorang kakak. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
