Sorot Indonesia – Pemukim Israel gelar ritual Talmud di Al Aqsa, apa itu? [titlebase] menjadi sorotan internasional setelah lebih dari 11.400 pemukim ilegal Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa selama perayaan Sukkot. Aksi penerobosan massal ini tidak hanya memicu kemarahan umat Islam dan komunitas internasional, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya ritual Talmud yang mereka lakukan di dalam salah satu situs suci paling sensitif di dunia?

Menurut laporan Otoritas Palestina, sebanyak 11.409 pemukim ilegal Israel memasuki kompleks Al-Aqsa antara 12 September dan 1 Oktober. Gubernur Yerusalem menyatakan bahwa 593 pemukim masuk pada 13 September, kemudian 1.678 orang pada 20-21 September. Puncaknya terjadi selama lima hari pertama Sukkot, dari 27 September hingga 1 Oktober, ketika 9.138 pemukim menyerbu kompleks tersebut. Pada Kamis (2/10), hampir 1.900 pemukim kembali menyerbu, dengan 1.195 orang masuk pada pagi hari dan 700 lainnya setelah salat Zuhur.

Baca juga:

Ritual Talmud yang dilakukan para pemukim mencakup doa, sujud massal, nyanyian, dan tarian di halaman Al-Aqsa. Foto dan video yang diunggah para pemukim menunjukkan mereka melakukan praktik keagamaan Yahudi secara terbuka, termasuk membawa persembahan tanaman. Pada hari kelima Sukkot, Rabu (30/9), sekitar 500 pemukim masuk melalui Gerbang Maroko, dipimpin mantan anggota Knesset Israel Moshe Feiglin. Ia melakukan ritual Talmud di halaman Al-Aqsa dan membawa persembahan tanaman di bawah perlindungan pasukan penjajah Israel.

Lantas, apa itu Talmud? Talmud adalah kumpulan teks fundamental dalam agama Yahudi yang berisi diskusi, hukum, etika, dan tradisi lisan. Ritual Talmud yang dilakukan di Al-Aqsa merujuk pada praktik ibadah Yahudi yang biasanya dilakukan di sinagoga, bukan di kompleks masjid. Praktik ini melanggar status quo yang telah berlaku sejak sebelum Israel menduduki Yerusalem Timur pada 1967. Berdasarkan pengaturan tersebut, Departemen Wakaf Islam Yerusalem yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf Yordania memiliki tanggung jawab eksklusif untuk mengelola seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa seluas 144 dunam atau 35,6 acre sebagai tempat ibadah umat Islam.

Pemukim Israel gelar ritual Talmud di Al Aqsa, apa itu? [titlebase] juga menjadi pertanyaan karena aksi ini meningkat drastis selama rangkaian hari raya Yahudi. Rangkaian tersebut dimulai dengan Tahun Baru Yahudi pada 12-13 September, dilanjutkan Yom Kippur pada 21-22 September, Sukkot pada 26 September hingga 2 Oktober, dan Simchat Torah pada 3 Oktober. Kelompok-kelompok sayap kanan ekstrem secara terbuka menyerukan pertemuan berskala besar selama Sukkot, sementara polisi Israel secara sepihak mengizinkan akses masuk melalui Gerbang Mughrabi sejak tahun 2003.

Mesir mengecam keras penyerbuan tersebut serta praktik provokatif dan ritual keagamaan di dalam kompleks masjid. Kairo memperingatkan adanya upaya untuk mengubah status quo dan memaksakan realitas baru di situs suci tersebut. “Mesir menegaskan perlunya mempertahankan status quo historis dan hukum di tempat-tempat suci Yerusalem,” kata Kementerian Luar Negeri Mesir. Kairo menambahkan bahwa pengaturan yang berlaku saat ini merupakan pilar mendasar untuk menghindari meningkatnya ketegangan serta mengancam keamanan dan stabilitas di wilayah Palestina yang diduduki maupun kawasan yang lebih luas.

Warga Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka dan merujuk pada resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan Israel atas kota tersebut pada tahun 1967 maupun aneksasi tahun 1980. Mereka menuduh otoritas Israel mengintensifkan langkah-langkah Yudaisasi terhadap kota yang diduduki serta menghapus identitas Arab dan Islamnya, terutama melalui aksi penerobosan berulang kali ke kompleks Al-Aqsa.

Pemukim Israel gelar ritual Talmud di Al Aqsa, apa itu? [titlebase] bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan cerminan pelanggaran serius terhadap status quo historis. Data dari Wakaf Islam Yerusalem menunjukkan lebih dari 1.500 pemukim masuk pada Minggu, lebih dari 1.700 pada Senin, dan setidaknya 1.400 pada Selasa. Lonjakan ini terjadi di tengah pengamanan ketat polisi Israel dan pembatasan yang diperketat terhadap jamaah Muslim serta peningkatan langkah keamanan di sekitar Kota Tua Yerusalem.

Ritual Talmud yang dilakukan di Al-Aqsa mencakup doa dan ritual yang khusus dilakukan di dekat Bab al-Qattanin atau Gerbang Pedagang Kapas. Sekitar 1.500 pemukim dan rabi menyerbu Al-Aqsa pada hari kedua libur, melakukan doa dan ritual Talmud di area tersebut. Tindakan ini secara jelas melanggar aturan yang telah ditetapkan di situs tersebut dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas penerobosan, pertanyaan ‘Pemukim Israel gelar ritual Talmud di Al Aqsa, apa itu? [titlebase]’ menjadi semakin relevan untuk dipahami. Talmud sebagai teks keagamaan tidak seharusnya dijadikan alat provokasi di situs suci umat Islam. Dunia internasional dituntut untuk bertindak tegas menjaga status quo dan mencegah perubahan realitas di Yerusalem Timur yang dapat memicu ketegangan berkepanjangan di kawasan.

Pada akhirnya, aksi penerobosan dan ritual Talmud di Al-Aqsa merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan status quo historis. Perdamaian di Palestina adalah kunci perdamaian dunia, dan menjaga kesucian Al-Aqsa adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.