Sorot Indonesia – JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, akhirnya angkat bicara soal gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menembus 53 ribu orang sepanjang tahun ini. Dalam pernyataannya kepada awak media, Sabtu (26/9/2026), Shinta menegaskan bahwa Apindo buka suara puluhan ribu pekerja kena PHK: masalahnya di hulu, bukan semata-mata akibat tekanan pandemi. Menurutnya, persoalan PHK harus dilihat secara proporsional karena penyebabnya tidak tunggal dan merupakan tantangan multidimensi.

Shinta menjelaskan bahwa ada persoalan struktural yang telah berlangsung lama, yaitu menurunnya daya saing industri nasional. “PHK perlu dilihat secara proporsional karena penyebabnya tidak tunggal dan menjadi multi-dimensional challenge. Di satu sisi terdapat persoalan yang bersifat struktural, yaitu menurunnya daya saing industri nasional yang telah berlangsung dalam waktu cukup panjang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dunia usaha masih menghadapi ongkos operasional yang tinggi, mulai dari biaya produksi dan logistik yang belum kompetitif, kepastian regulasi, akses pembiayaan, hingga dinamika pasar tenaga kerja.

Baca juga:

Lebih lanjut, Shinta mengungkapkan bahwa selain masalah struktural, terdapat pula persoalan yang dialami masing-masing perusahaan maupun sektor industri, terutama industri padat karya. Gangguan pasokan bahan baku, kenaikan biaya energi dan bahan baku akibat ketidakpastian geopolitik, serta pelemahan permintaan di sejumlah pasar ekspor menjadi pemicu utama. “Bagi dunia usaha, PHK adalah opsi terakhir atau last resort ketika seluruh langkah penyelamatan perusahaan sudah tidak lagi mampu menjaga keberlangsungan usaha,” tambahnya. Apindo buka suara puluhan ribu pekerja kena PHK: masalahnya di hulu menjadi sorotan karena selama ini banyak pihak hanya melihat PHK sebagai akibat langsung dari pandemi, padahal ada akar masalah yang lebih dalam.

Shinta memaparkan bahwa sebelum melakukan PHK, perusahaan biasanya akan menempuh berbagai langkah penyelamatan. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Menekan biaya operasional dan overhead
  • Mengurangi pengeluaran yang tidak esensial
  • Menunda belanja modal
  • Mengevaluasi kembali rencana ekspansi dan investasi
  • Mengoptimalkan utilisasi kapasitas produksi
  • Meninjau kembali rantai pasok dan strategi pengadaan
  • Memperkuat pengelolaan arus kas dan likuiditas

“Apabila tekanan usaha masih berlanjut, barulah perusahaan mempertimbangkan berbagai penyesuaian yang berkaitan dengan tenaga kerja sebagai opsi terakhir,” jelas Shinta. Ia menegaskan bahwa PHK bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan, melainkan melalui pertimbangan matang dan upaya maksimal untuk menyelamatkan perusahaan.

Menghadapi kondisi ini, Apindo tengah menyiapkan Framework 10 Langkah Pencegahan PHK. Panduan tersebut akan digunakan oleh perusahaan anggota untuk mengedepankan langkah preventif sebelum mengambil keputusan PHK. Framework ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan usaha sekaligus melindungi tenaga kerja. Apindo buka suara puluhan ribu pekerja kena PHK: masalahnya di hulu juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk mengatasi persoalan ini secara bersama-sama.

Shinta menambahkan bahwa pemerintah perlu segera membenahi masalah hulu, seperti infrastruktur logistik, regulasi yang tumpang tindih, dan iklim investasi yang kondusif. Tanpa perbaikan di sektor hulu, gelombang PHK dikhawatirkan terus berlanjut. “Kami berharap ada solusi komprehensif yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga menyentuh akar masalah,” tuturnya. Apindo buka suara puluhan ribu pekerja kena PHK: masalahnya di hulu menjadi pengingat bahwa daya saing industri nasional harus menjadi prioritas utama.

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa PHK hingga September 2026 telah mencapai 53.000 pekerja, dengan sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik sebagai penyumbang terbesar. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meskipun demikian, Shinta optimistis bahwa dengan langkah-langkah preventif dan perbaikan struktural, tren PHK dapat ditekan. Ia mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan fokus pada solusi.

Sebagai kesimpulan, gelombang PHK yang menimpa puluhan ribu pekerja bukanlah persoalan sederhana. Apindo buka suara puluhan ribu pekerja kena PHK: masalahnya di hulu menegaskan bahwa akar masalah terletak pada menurunnya daya saing industri, ongkos operasional yang tinggi, dan ketidakpastian global. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk membenahi hulu, mulai dari infrastruktur, regulasi, hingga peningkatan daya saing. Dengan demikian, PHK dapat dicegah dan keberlangsungan usaha serta kesejahteraan pekerja dapat terjaga.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.