Sorot Indonesia – Duel twente vs ferencvaros di babak kualifikasi Europa League menjadi salah satu momen paling pahit sekaligus titik balik bagi FC Twente musim ini. Kekalahan dari wakil Hungaria tersebut di awal musim sempat membuat langkah tim asuhan John van den Brom tersendat. Namun, justru dari luka itulah skuad Tukkers menemukan kembali identitas permainan mereka, bangkit di kompetisi domestik, dan kini menuai hasil manis di berbagai lini.
Kegagalan di Eropa tidak berlangsung lama. Setelah tersingkir dari jalur Europa League, FC Twente harus melewati play-off melawan FK Qarabag. Kekalahan di kandang sempat membuat publik Grolsch Veste cemas, tetapi pasukan Van den Brom mampu bangkit dramatis di Azerbaijan dan memastikan tiket ke fase grup Conference League. Momentum itu menjadi pemicu kepercayaan diri yang mengubah arah musim mereka.
Di Eredivisie, kebangkitan itu terlihat nyata. Setelah tujuh pertandingan, FC Twente mengumpulkan enam belas poin dan hanya tertinggal tiga angka dari pemuncak klasemen, AZ Alkmaar. Puncak dari rentetan performa impresif itu terjadi ketika mereka menjamu raksasa sekaligus juara bertahan PSV Eindhoven di Grolsch Veste dan menang dramatis 3-2. Nama Daouda Weidmann menjadi sorotan setelah mencetak gol kemenangan menjelang sepuluh menit terakhir laga.
Weidmann kini menjelma menjadi salah satu goudhaantje atau permata baru di Enschede. Gelandang asal Prancis berusia 23 tahun itu sempat hanya duduk di bangku cadangan saat laga twente vs ferencvaros berlangsung, bahkan harus puas dengan peran pemain pengganti di leg kedua di Hungaria. Namun, kepercayaan yang diberikan Van den Brom membuahkan hasil luar biasa. Ia tampil sebagai starter sejak laga melawan DAC 1904 dan langsung menyumbang gol serta assist.
Hingga kini, Weidmann telah mengoleksi 837 menit bermain dalam sebelas pertandingan, mencetak tiga gol, dan memberikan lima assist. Data analitik menunjukkan kontribusinya jauh melampaui angka-angka tersebut. Akurasi umpannya ke sepertiga akhir lapangan berada di atas rata-rata, begitu pula dengan intensitas tekanan, intersepsi saat transisi, dan kemampuannya memenangkan duel. Nilai Skill-nya menurut algoritma FootballTransfers melonjak dari 43,9 menjadi 50,5, sebuah lompatan yang mengindikasikan potensi keuntungan besar bagi klub.
Kisah sukses transfer ini bukan yang pertama. Sebelumnya, FC Twente juga sukses mengorbitkan Mats Rots, yang kini bergabung dengan TSG Hoffenheim. Kepindahan Rots menghasilkan pemasukan dasar sekitar dua belas juta euro, dengan potensi total hingga enam belas juta euro. Angka tersebut menjadi rekor penjualan tersendiri bagi klub. Untuk mengisi kekosongan di posisi bek kiri, Direktur Teknik Erik ten Hag merekrut dua pemain sekaligus, yakni Aske Adelgaard dan Krzysztof Kurowski, yang keduanya terikat kontrak hingga 2030.
Menariknya, Adelgaard sendiri sempat mencetak gol pada laga pertama twente vs ferencvaros, momen yang menjadi satu-satunya kilau di tengah hasil mengecewakan saat itu. Namun, situasi bek kiri kini berubah. Van den Brom lebih sering memainkan Ruud Nijstad, yang aslinya seorang bek tengah, sebagai bek kiri. Nijstad telah tampil lima kali di posisi itu, sementara Adelgaard dan Kurowski harus bersaing ketat untuk menit bermain. Kurowski sendiri datang dengan status bebas transfer setelah kontraknya di Slask Wroclaw tidak diperpanjang, sebuah langkah transfer yang cerdik secara finansial.
Dari kubu lawan, Ferencvaros juga memiliki cerita tersendiri. Direktur olahraga mereka, Hajnal Tamas, mengakui bahwa perubahan politik pada April turut berdampak pada sepak bola, termasuk anggaran klub yang mengecil secara signifikan. Meski demikian, tim asal Hungaria itu tetap kompetitif dan berhasil menembus fase utama Europa League serta menempati posisi teratas dalam peringkat UEFA. Pernyataan Hajnal menegaskan bahwa keberhasilan Ferencvaros tidak lepas dari kerja keras dan manajemen yang matang, terlepas dari dinamika finansial yang mereka hadapi.
Di sisi FC Twente, manajemen waktu juga menjadi perhatian utama. Setelah kemenangan atas PSV, Van den Brom memberikan libur panjang kepada para pemainnya selama jeda internasional tiga pekan. Beberapa pemain bahkan mendapat waktu istirahat ekstra, terutama mereka yang musim panasnya tersita oleh kewajiban tim nasional dan cedera, seperti Wout Weghorst dan Ramiz Zerrouki yang membela Belanda dan Aljazair di Piala Dunia. Bart van Rooij dan Daan Rots memanfaatkan waktu luang tersebut dengan berlibur ke Spanyol Selatan, sementara Younes Taha memilih Marrakech, Maroko.
Van Rooij sendiri mengaku sebagai pemain yang santai di lapangan hijau maupun di lapangan golf. Ia menyebut dirinya sebagai gezelschapsspeler atau pemain tim yang lebih menikmati suasana kebersamaan ketimbang kompetisi ketat. Meski mengakui Daan Rots lebih mahir dalam golf, ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah cuaca bagus dan kebersamaan yang menyenangkan.
Secara keseluruhan, perjalanan FC Twente musim ini menunjukkan bahwa kekalahan menyakitkan dari Ferencvaros bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan. Dari titik terendah di Eropa, tim ini berhasil membangun kembali mentalitas, mengembangkan pemain muda menjadi aset bernilai tinggi, dan bersaing di papan atas Eredivisie. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin FC Twente kembali menorehkan prestasi besar di kancah domestik maupun Eropa pada akhir musim nanti.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
