Sorot Indonesia – Presiden FIFA Gianni Infantino ambil tindakan drastis usai dituduh melakukan pemerasan, dengan menggelar rapat darurat bersama staf senior FIFA di Rabat, Maroko. Pertemuan ini diadakan untuk mendiskusikan situasi internal yang semakin memanas, terutama setelah timbulnya berbagai tuduhan dan penolakan dari anggota organisasi.

Dalam dua pekan terakhir, Infantino menghadapi tekanan hebat setelah rencananya untuk menjual saham kompetisi FIFA kepada pihak swasta melalui entitas baru yang disebut FIFA Forward Enterprise ditolak keras. Beberapa staf senior, termasuk Kepala Pengembangan Global FIFA, Arsene Wenger, menilai bahwa langkah tersebut dapat merusak nilai dan tradisi sepak bola. Mereka menyatakan bahwa penjualan ini tidak akan diterima dan berisiko mengubah wajah sepak bola yang telah ada selama ini.

Baca juga:

Situasi semakin rumit setelah UEFA mengeluarkan ultimatum hukum kepada Infantino. Banyak federasi, termasuk Wales, yang telah menarik dukungan mereka terhadap pencalonan Infantino untuk periode kepemimpinan 2027-2031, menyusul hilangnya kepercayaan akibat dugaan pemerasan yang dilontarkan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Ali bin Hussein.

Ali menuduh bahwa FIFA menahan pencairan hadiah yang seharusnya diterima tim nasional Yordania setelah mencapai final FIFA Arab Cup 2025, dengan syarat dukungan politik untuk Infantino. Dalam cuitan di media sosial, Ali menyebut situasi ini sebagai bentuk pemerasan dan menegaskan bahwa federasi Yordania tidak akan menyerah pada tekanan tersebut. Ia menjelaskan bahwa timnya seharusnya mendapatkan hadiah sebesar 4,2 juta dolar AS, namun hingga kini, dana tersebut belum diterima.

Dengan semakin berkurangnya dukungan, Infantino kini berada di ambang krisis kepemimpinan. UEFA bahkan mengancam akan memboikot semua kompetisi FIFA jika Infantino tidak segera mundur. Meskipun ancaman boikot tersebut tidak berlanjut setelah rencana penjualan saham dibatalkan, masalah kepercayaan antara FIFA dan asosiasi sepak bola di Eropa tetap menjadi perhatian utama.

Rapat darurat yang diadakan oleh Infantino di Rabat bertujuan untuk mengevaluasi posisinya di dalam organisasi. Namun, banyak yang meragukan apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan anggota FIFA. Dengan pemilihan presiden yang akan berlangsung pada Maret 2027, Infantino membutuhkan dukungan dari 106 dari 211 anggota untuk terpilih kembali, sebuah target yang kini tampak semakin sulit dicapai.

Sejumlah pihak juga mulai berspekulasi mengenai kemungkinan calon pengganti Infantino jika ia terpaksa mundur. Beberapa nama muncul sebagai kandidat, namun ketidakpastian masih menyelimuti situasi ini. Dalam konteks yang lebih luas, kekacauan yang melanda FIFA di tengah rencana ambisius Infantino menunjukkan betapa rentannya posisi kepemimpinan dalam organisasi sepak bola dunia ini.

Dengan tekanan yang terus meningkat, masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA menjadi semakin tidak pasti. Meskipun ia berusaha untuk tetap bertahan, tuduhan pemerasan dan hilangnya dukungan dari anggota membuat situasi ini menjadi semakin rumit. Waktu akan menentukan apakah Infantino mampu mengatasi krisis ini atau harus mengakui kekalahannya dalam persaingan politik di tubuh FIFA.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.