Sorot Indonesia – Periode kedua Roberto Mancini tak berjalan mulus, Italia dibantai Belgia 0-2 di Nations League pada laga yang digelar di Stadio Olimpico, Roma. Comeback sang pelatih berusia 61 tahun itu justru dimulai dengan hasil pahit, sebuah kekalahan yang membuat publik Italia kembali dihantui bayang-bayang kekecewaan setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Laga yang berlangsung Sabtu (26/9) dini hari WIB itu menjadi pukulan telak bagi Azzurri yang berambisi membangun kembali kepercayaan diri di Grup A1.
Mancini kembali dipercaya menangani Timnas Italia setelah menggantikan Gennaro Gattuso. Ia bukan sosok asing bagi publik Italia. Pada periode pertamanya antara 2018 hingga 2023, Mancini membawa Azzurri menjuarai Piala Eropa dan mencatat rekor tidak terkalahkan dalam 37 pertandingan, sebuah capaian yang sempat menjadi rekor Eropa sebelum akhirnya dilampaui Spanyol. Namun, tantangan yang dihadapi kini jauh lebih berat. Italia tergabung di Grup A1 bersama Belgia, Prancis, dan Turki, dan persiapan singkat membuat laga pembuka berjalan tidak mudah.
Jalannya Pertandingan: Dua Gol dari Serangan Balik
Belgia membuka keunggulan melalui Mika Godts pada menit ke-20. Pemain yang baru bergabung dengan Paris Saint-Germain itu mencetak gol internasional pertamanya setelah menerima umpan dari Kevin De Bruyne. De Bruyne yang mencatat penampilan ke-125 bersama tim nasional Belgia mengirim bola kepada Godts di sisi kiri. Godts lalu bergerak ke tengah, melewati tiga pemain Italia sebelum melepaskan tembakan yang tidak mampu dihentikan Gianluigi Donnarumma. Dalam prosesnya, Gianluca Mancini dibuat kehilangan keseimbangan oleh pergerakan Godts, sementara bek Italia lainnya, Diego Coppola, terlambat melakukan tekel untuk menghentikan penyerang Belgia itu.
Italia berusaha meningkatkan tekanan setelah tertinggal, tetapi justru kembali kebobolan pada babak kedua. Dodi Lukebakio menggandakan keunggulan Belgia pada menit ke-69. Lukebakio mencetak gol dari luar kotak penalti setelah Sandro Tonali berusaha mengejar dan menghentikannya. Dua gol Belgia sama-sama lahir dari serangan balik yang berhasil mengeksploitasi ruang di pertahanan Italia. Pelatih anyar Belgia, Mark van Bommel, mencatatkan debut positifnya di laga ini.
Statistik Menunjukkan Italia Jauh dari Harapan
Kekalahan dari Belgia memperlihatkan sejumlah pekerjaan rumah bagi Italia. Berdasarkan catatan expected goals (xG), Italia hanya menghasilkan 1,5 sepanjang pertandingan dan 0,3 pada babak pertama. Sebaliknya, Belgia mencatat xG 2,7, termasuk 2,5 sebelum turun minum. Gianluigi Donnarumma tetap tampil sibuk dengan enam penyelamatan, sedangkan Senne Lammens juga membuat enam penyelamatan untuk Belgia. Data ini menegaskan bahwa periode kedua Roberto Mancini tak berjalan mulus, Italia dibantai Belgia 0-2 di Nations League dengan cara yang menyakitkan.
| Statistik | Italia | Belgia |
|---|---|---|
| Expected Goals (xG) | 1,5 | 2,7 |
| xG Babak Pertama | 0,3 | 2,5 |
| Penyelamatan Kiper | 6 (Donnarumma) | 6 (Lammens) |
| Gol | 0 | 2 |
Reaksi Mancini dan Para Pemain
Usai pertandingan, bek Italia Riccardo Calafiori mengakui permainan timnya masih banyak kekurangan. “Kami meninggalkan celah dan kebobolan dua gol yang sebenarnya bisa dihindari. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Calafiori. Mancini juga mengaku kecewa terhadap hasil pertandingan. Pelatih berusia 61 tahun itu memahami reaksi negatif suporter Italia setelah timnya gagal memberikan hasil positif. “Ketika kami kalah, tidak ada yang senang. Ketika Anda kalah, Anda bisa mendapatkan cemoohan,” ujar Mancini.
Mancini meminta publik Italia bersabar setelah kembali menangani Gli Azzurri. Ia mengakui penampilan Italia masih berada di bawah ekspektasi. Ia berharap tim segera menunjukkan perkembangan saat menghadapi Turki di Ataturk Stadium. “Saya berharap tim dapat menampilkan performa yang baik saat melawan Turki, serta meningkatkan intensitas pressing dan agresivitas,” ujar Mancini. Dengan jadwal UEFA Nations League yang padat, Mancini menyadari waktu persiapan sangat terbatas. Karena itu, ia meminta kesabaran sembari membangun kembali tim yang kompetitif.
Dalam laga melawan Belgia, susunan pemain Italia diisi delapan pemain yang sebelumnya menjadi bagian reguler selama perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, komposisi itu belum mampu mencegah Italia tumbang di kandang sendiri. Hasil tersebut membuat Italia dua kali gagal mencetak gol dan kebobolan dua kali di kandang dalam 40 tahun terakhir, sebuah catatan yang tentu memalukan bagi tim sekelas Italia.
Jadwal Berat Menanti Azzurri
Selanjutnya, Italia akan bertandang ke Turki pada Selasa (29/9). Setelah itu, Azzurri dijadwalkan menghadapi Prancis pada 3 Oktober untuk melanjutkan perjalanan di Grup A1 Nations League. Mancini menilai waktu persiapan yang tersedia belum cukup untuk menerapkan banyak hal baru. Tantangan ini menjadi ujian sesungguhnya bagi periode keduanya. Publik Italia tentu berharap bahwa periode kedua Roberto Mancini tak berjalan mulus, Italia dibantai Belgia 0-2 di Nations League ini hanyalah awal yang buruk, bukan gambaran masa depan tim.
Perjalanan panjang masih menanti. Mancini memiliki rekam jejak yang membuktikan kemampuannya, termasuk gelar Piala Eropa dan rekor 37 pertandingan tanpa kekalahan. Namun, sepak bola tidak hidup dari masa lalu. Ia harus segera menemukan formula yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan diri pemain dan suporter. Kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun masih menjadi luka yang belum sembuh bagi publik Italia, dan kekalahan dari Belgia hanya memperdalam luka tersebut.
Dengan waktu persiapan yang minim dan lawan-lawan berat yang menanti, periode kedua Roberto Mancini tak berjalan mulus, Italia dibantai Belgia 0-2 di Nations League menjadi pengingat bahwa membangun kembali tim yang kompetitif membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja keras. Laga melawan Turki dan Prancis akan menjadi penentu apakah Mancini mampu membalikkan keadaan atau justru semakin tenggelam dalam tekanan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
