Sorot Indonesia – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan utama di berbagai kota di Indonesia dengan munculnya aksi pro dan kontra dari masyarakat. Sejak 10 Juni 2026, demonstrasi mengemuka baik dari kelompok yang mendukung maupun menolak program ini. Di Jakarta, Batam, Medan, Jambi, Yogyakarta, Surabaya, Jember, dan Lampung, aksi massa berlangsung dengan tuntutan yang beragam.

Baca juga:

Para pendukung MBG terdiri dari guru, anak-anak, serta pegawai dan pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menggelar aksi mendukung program ini. Mereka berargumen bahwa MBG sangat penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Namun, tidak sedikit juga yang menentang MBG, dengan alasan bahwa program ini berpotensi menggerus anggaran negara dan melahirkan berbagai persoalan.

Akademisi memperingatkan bahwa aksi-aksi ini mungkin bukan murni ekspresi masyarakat, melainkan rekayasa untuk mempengaruhi persepsi publik. Hal ini mengingat adanya pola demonstrasi yang selalu muncul dari rezim ke rezim, yang dapat berujung pada benturan antarwarga.

Dalam konteks ini, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang membuka diri untuk mengevaluasi dan memperbaiki program MBG. Yanu menekankan pentingnya penataan program yang berbasis data yang objektif, bukan hanya pelabelan subjektif yang dapat menyesatkan sasaran penerima manfaat.

Baca juga:

Namun, tidak semua masukan positif terhadap MBG. Wacana untuk menjadikan penderita Tuberkulosis (TBC) sebagai penerima manfaat program ini ditolak oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris. Menurut Charles, hal ini berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, karena distribusi logistik melalui dapur pusat sulit menjangkau penderita TBC yang tersebar di berbagai wilayah.

Di Purwokerto, pergerakan mahasiswa juga menggelar aksi teatrikal di depan kantor Bupati, menuntut agar dasar hukum program MBG diubah menjadi undang-undang. Tuntutan ini menunjukkan adanya keinginan untuk memastikan bahwa program ini mendapatkan legitimasi yang lebih kuat, yang diharapkan dapat memperbaiki tata kelola program secara menyeluruh.

Program Makan Bergizi Gratis, yang bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak di seluruh Indonesia, kini menghadapi tantangan besar dalam implementasinya. Dengan adanya berbagai tuntutan dan kritik dari masyarakat, serta dukungan yang juga tidak kalah besarnya, pemerintah perlu menyikapi dengan bijak agar tujuan mulia dari program ini dapat tercapai tanpa menimbulkan konflik di masyarakat.

Baca juga:

Dengan demikian, penting bagi pemerintah untuk terus melakukan evaluasi dan penataan program MBG agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Melalui pendekatan yang transparan dan berbasis data, diharapkan program ini dapat berfungsi dengan optimal dan tidak hanya menjadi wacana tanpa aksi nyata.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.