Sorot Indonesia – Dunia sepak bola internasional kini berada dalam situasi yang memanas, di mana Gianni Infantino kehilangan dukungan sejumlah federasi Eropa jelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan pada Maret 2027. Baru-baru ini, Selandia Baru memutuskan untuk mencabut dukungannya terhadap pencalonan kembali Infantino sebagai presiden FIFA. Keputusan ini muncul setelah ketidakpuasan terhadap rencana penjualan saham hak komersial yang dinilai gagal.

Sementara itu, meskipun Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) memilih untuk bersikap lebih hati-hati dan tetap memberikan dukungan kepada kepemimpinan FIFA, gelombang penolakan dari tiga konfederasi besar lainnya—UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah)—kian menguat. Mereka secara terbuka mendesak agar ada evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Infantino.

Baca juga:

Penentangan ini tidak lepas dari rencana Infantino untuk menarik investasi swasta ke dalam ajang kompetisi FIFA, yang menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Meskipun menghadapi tantangan ini, Infantino tetap optimis dan bertekad untuk maju mempertahankan jabatannya untuk periode keempat.

Di sisi lain, dukungan bagi Infantino masih mengalir dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), yang menyatakan bahwa mereka akan mendukungnya meski tidak menjamin seluruh negara di benua itu akan memberikan suara untuknya. Sejarah menunjukkan bahwa dukungan resmi CAF tidak selalu diikuti oleh anggotanya, seperti yang terjadi pada pemilihan sebelumnya.

Menariknya, enam federasi sepak bola Arab, termasuk Maroko, Qatar, dan Mesir, juga menyatakan dukungan penuh kepada Infantino. Mereka menekankan pentingnya kepemimpinan dan komitmen Infantino dalam memajukan sepak bola secara global.

Namun, hubungan antara FIFA dan UEFA semakin memanas, seiring dengan konflik yang telah berlarut-larut. Ketegangan ini semakin meningkat setelah rencana FIFA untuk membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), yang akan membuka pintu bagi investasi swasta dalam turnamen besar, termasuk Piala Dunia. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat kritik yang signifikan.

Di tengah semua ini, muncul pula dugaan penyalahgunaan dana UEFA yang melibatkan Infantino saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal antara 2009 hingga 2016. Pihak FIFA menanggapi tudingan ini dengan menyatakan bahwa semua informasi tersebut adalah bagian dari upaya terkoordinasi untuk melemahkan kepemimpinannya.

Presiden CAF, Patrice Motsepe, meminta agar masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA ditentukan melalui proses pemilihan mendatang, dan menyatakan bahwa keputusan tersebut seharusnya diserahkan kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Menurutnya, semua pihak harus menghormati mekanisme yang ada dan memberikan kesempatan bagi kandidat lain untuk maju jika ada yang ingin menantang posisi Infantino.

Dengan situasi yang semakin tidak menentu menjelang pemilihan presiden FIFA, Gianni Infantino kehilangan dukungan sejumlah federasi Eropa jelang pemilihan presiden FIFA. Hal ini menandakan bahwa pemilihan mendatang akan menjadi momen krusial dalam menentukan arah masa depan sepak bola dunia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.