Sorot Indonesia – Yen tembus level terlemah sejak 1986, Jepang siaga penuh hadapi krisis. Pada Rabu, 22 Juli 2026, nilai tukar yen Jepang diperdagangkan di sekitar 163 yen per dolar Amerika Serikat (AS), mencatat level terendah sejak Desember 1986. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pemerintah dan pelaku pasar yang menduga kemungkinan intervensi untuk menstabilkan mata uang Jepang yang terus melemah.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menangani situasi ini. “Kami akan merespons dengan tepat jika diperlukan,” ujarnya dalam konferensi pers. Namun, Kihara menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai pergerakan pasar valuta asing, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak berubah.
Pelemahan yen ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS, yang semakin diminati sebagai aset aman di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Hal ini membawa dampak signifikan bagi Jepang, yang sangat bergantung pada impor bahan baku. Kenaikan nilai dolar menyebabkan biaya impor energi dan makanan meningkat, yang pada gilirannya memberikan tekanan tambahan pada rumah tangga dan sektor bisnis di Jepang.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan Jepang, negara ini mencatat defisit perdagangan sebesar 1,01 triliun yen (sekitar 6,2 miliar dolar AS) pada semester pertama tahun ini. Meskipun ekspor Jepang mengalami peningkatan 13,7 persen menjadi 60,66 triliun yen, impor juga meningkat 10,7 persen mencapai 61,67 triliun yen. Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya pembelian logam nonbesi dan telepon pintar, meskipun impor minyak mentah dari Timur Tengah mengalami penurunan sebesar 26,4 persen.
Jepang kini menghadapi tantangan besar di tengah pelemahan yen yang berpotensi memperburuk defisit perdagangan. Pada bulan Juni, Jepang kembali mencatat defisit perdagangan yang lebih besar, yaitu 406,9 miliar yen, dibandingkan dengan defisit bulan Mei yang direvisi menjadi 391,8 miliar yen. Kementerian Keuangan mencatat bahwa pelemahan yen dan peningkatan harga minyak akibat krisis di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memperbesar nilai impor negara tersebut.
Dengan situasi ini, pemerintah Jepang berada dalam siaga penuh untuk menghadapi krisis yang dipicu oleh yen yang tembus level terlemah sejak 1986. Masyarakat dan pelaku ekonomi kini berharap agar tindakan yang tepat dapat diambil untuk mencegah dampak lebih lanjut yang merugikan bagi perekonomian Jepang.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
