Sorot Indonesia – Ekspektasi kebijakan The Fed, begini proyeksi rupiah untuk Senin (22/6/2026) [titlebase]. Kurs rupiah dibuka bergerak datar di level Rp 17.995 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Pelaku pasar menunjukkan sikap hati-hati menantikan risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan rilis pada Kamis depan. Selain itu, perhatian juga tertuju pada data cadangan devisa Bank Indonesia.
Rupiah berada di bawah tekanan meskipun indeks dolar AS mengalami pelemahan. Rully Nova, analis dari Bank Woori Saudara, memperkirakan bahwa pergerakan rupiah hari ini akan tertekan dalam kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.020. Dia menjelaskan bahwa ketidakpastian pelaku pasar akibat menunggu rilis notulen meeting The Fed menjadi salah satu faktor yang memengaruhi.
“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan meski indeks dolar melemah. Pelaku pasar cenderung hati-hati mengantisipasi rilis notulen meeting The Fed,” ungkap Rully.
Dari sisi domestik, defisit neraca perdagangan yang tercatat mencapai US$ 1,61 miliar juga menjadi perhatian. Hal ini berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun ada harapan untuk penguatan, beberapa indikator ekonomi domestik menunjukkan perlunya kewaspadaan.
Di sisi lain, analisis dari Doo Financial menyatakan bahwa rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan tipis, dibuka di level Rp 17.990 per dolar AS, naik 0,03% dari penutupan sebelumnya. Hingga pukul 09.15, rupiah menguat lebih jauh di level Rp 17.986 per dolar AS. Sentimen positif ini muncul setelah rilis data aktivitas bisnis AS yang lebih rendah dari ekspektasi, yang berpotensi mengurangi ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
“Rupiah berpotensi menguat seiring koreksi dolar AS setelah data ISM yang tidak sekuat harapan. Namun, pelaku pasar tetap menantikan data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis hari ini,” ungkap Lukman Leong, analis dari Doo Financial.
Proyeksi bagi rupiah juga didasarkan pada reaksi pasar terhadap data ketenagakerjaan AS yang lemah. Data nonfarm payrolls yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan paling kecil dalam empat bulan terakhir dapat memberikan peluang bagi The Fed untuk lebih fleksibel dalam kebijakan moneternya.
Dengan demikian, ekspektasi kebijakan The Fed, begini proyeksi rupiah untuk Senin (22/6/2026) [titlebase], mencerminkan ketidakpastian yang ada di pasar. Investor diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah fluktuasi nilai tukar dan perkembangan ekonomi global.
Melihat dinamika ini, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi, baik domestik maupun internasional, serta menunggu rilis data cadangan devisa yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi perekonomian Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
