Sorot Indonesia – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali guncang dunia, harga minyak meroket 17 persen hingga ancam krisis energi. Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia yang signifikan, menciptakan kekhawatiran akan dampaknya terhadap pasokan energi global.
Pada perdagangan Jumat (17/7/2026), harga minyak mentah Brent naik hingga 85,28 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai 79,98 dolar AS per barel. Kenaikan ini mencatatkan lonjakan hampir 12 persen sepanjang minggu ini, menandai kenaikan terbesar sejak konflik kembali memanas. Menurut analisis pasar, hal ini disebabkan oleh serangan militer yang meningkat antara kedua negara dan ancaman gangguan di Selat Hormuz serta Laut Merah.
Sumber-sumber menginformasikan bahwa Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur ekspor jika serangan AS terus berlanjut. Situasi ini semakin memperburuk risiko terganggunya dua jalur pelayaran energi utama dunia yaitu Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb, yang merupakan titik kritis bagi 20% pasokan energi global.
Eskalasi ini dimulai setelah AS meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap fasilitas militer Iran, yang mengakibatkan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Iran menanggapi dengan ancaman untuk menghentikan semua ekspor energi dari Timur Tengah sebagai bentuk perlawanan terhadap blokade yang diterapkan oleh AS.
Dalam pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa ekspor energi bisa menjadi hak yang dinikmati bersama atau dilarang untuk semua jika konflik berlanjut. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar energi dan menyebabkan reaksi negatif di bursa saham Asia, di mana indeks Nikkei 225 Jepang mengalami penurunan lebih dari 3 persen.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa keamanan pasokan minyak menjadi isu yang sangat kritis saat ini. Mengingat ketegangan yang meningkat, pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap harga komoditas energi di masa mendatang.
Dengan kondisi yang terus memburuk, banyak pengamat ekonomi memperingatkan bahwa Indonesia, yang masih bergantung pada impor minyak, juga akan merasakan dampak dari lonjakan harga ini. Jika konflik berlanjut dan pasokan energi terganggu, risiko krisis energi di berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi semakin nyata.
Perang AS-Iran kembali guncang dunia, harga minyak meroket 17 persen hingga ancam krisis energi menjadi perhatian global. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari kedua negara dan upaya internasional untuk meredakan ketegangan ini.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
