Sorot IndonesiaHarga emas melonjak 2% menyusul kesepakatan pendamaian AS-Iran yang diumumkan pada hari Senin. Lonjakan harga ini terjadi setelah pejabat tinggi dari kedua negara mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang telah mengganggu stabilitas regional dan global.

Kenaikan harga emas ini bersamaan dengan penurunan harga minyak mentah yang jatuh lebih dari 4%. Pengumuman kesepakatan damai ini juga meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan kemungkinan suku bunga acuan yang lebih tinggi ke depannya.

Baca juga:

Pernyataan bersama dari perwakilan resmi Amerika Serikat dan Iran menegaskan bahwa mereka telah menyepakati kerangka kerja untuk mengakhiri peperangan, menghentikan blokade ekonomi AS terhadap Iran, serta membuka kembali akses ke Selat Hormuz, jalur strategis untuk pengiriman energi. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, turut mengonfirmasi berita ini melalui media sosial, menyebutkan bahwa perjanjian damai ini dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi pada hari Jumat mendatang di Swiss.

Dampak positif dari kesepakatan ini terlihat di berbagai sektor keuangan. Nilai tukar dolar AS melemah ke titik terendah dalam sepuluh hari terakhir, menjadikan emas yang diperdagangkan dalam mata uang Amerika menjadi lebih terjangkau bagi pembeli menggunakan mata uang lainnya. Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak dan pelemahan dolar AS akibat berkurangnya risiko geopolitik sangat membantu menstabilkan ekspektasi inflasi di pasar.

“Kombinasi faktor ini adalah pendorong utama bagi kenaikan harga logam mulia dalam beberapa pekan terakhir. Namun, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada seberapa kuat dan bertahannya perjanjian damai ini di masa mendatang,” tambahnya.

Baca juga:

Sejak pecahnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu, harga emas sebenarnya telah mengalami penurunan sekitar 20%. Penutupan akses di Selat Hormuz selama konflik tersebut menyebabkan lonjakan tajam harga minyak global, yang pada gilirannya meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.

Meskipun emas dikenal sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung menurun saat suku bunga tinggi. Ini disebabkan karena biaya peluang untuk menyimpan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga seperti emas menjadi lebih besar dibandingkan instrumen keuangan lainnya. Dengan meredanya ketegangan, proyeksi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve pada bulan Desember mendatang kini hanya sebesar 47%, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi minggu lalu yang mencapai 69%.

Dalam catatan analisisnya, lembaga keuangan OCBC menuliskan bahwa kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang, risiko fiskal, serta perpecahan geopolitik yang masih berlangsung terus menjadi penopang permintaan emas dalam jangka panjang. Pelonggaran tekanan inflasi yang dipicu oleh penurunan harga energi dapat membantu menguatkan kembali faktor-faktor pendorong permintaan tersebut.

Baca juga:

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Harga perak spot naik 3,1% menjadi 70,07 dolar AS per ons, harga platinum meningkat 3,1% menjadi 1.771,27 dolar AS per ons, dan palladium tercatat menguat 3,3% menjadi 1.325,76 dolar AS per ons.