Sorot Indonesia – Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali marak dalam beberapa bulan terakhir, terutama di sektor pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Menurut data yang dikumpulkan oleh Forum Komunikasi IUP-IKN, lebih dari 1.070 pekerja telah kehilangan pekerjaan, sedangkan sekitar 250 pekerja masih dirumahkan. Namun, perlu diingat bahwa kondisi tersebut tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan kombinasi pemangkasan kuota produksi, belum tuntasnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), hingga tekanan ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja pada semester I 2026 meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah orang yang bekerja terekrut lebih banyak 15 persen dari tahun lalu. Di tengah adanya beberapa isu ataupun kasus-kasus PHK, jumlah orang yang dipekerjakan dengan lapangan kerja baru, investasi baru, meningkat tinggi. Penyerapan tenaga kerja langsung pada semester I 2026 tercatat mencapai 1,45 juta orang.
Dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta Pusat, Airlangga menjelaskan bahwa capaian investasi berjalan tumbuh 7,2 persen atau berada di atas pertumbuhan ekonomi sampai semester I 2026. Total realisasi investasi telah mencapai Rp1.010,6 triliun, atau setara 49,5 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun. Porsi investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp507,6 triliun atau 50,2 persen.
Dalam beberapa bulan terakhir, sektor pertambangan batu bara di Kalimantan Timur mengalami gelombang PHK yang cukup signifikan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Forum Komunikasi IUP-IKN, lebih dari 1.070 pekerja telah kehilangan pekerjaan, sedangkan sekitar 250 pekerja masih dirumahkan. Apindo Kalimantan Timur menilai bahwa kondisi tersebut tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan kombinasi pemangkasan kuota produksi, belum tuntasnya persetujuan RKAB, hingga tekanan ekonomi global.
Dalam beberapa bulan terakhir, sektor pertambangan batu bara di Kalimantan Timur mengalami gelombang PHK yang cukup signifikan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Forum Komunikasi IUP-IKN, lebih dari 1.070 pekerja telah kehilangan pekerjaan, sedangkan sekitar 250 pekerja masih dirumahkan. Apindo Kalimantan Timur menilai bahwa kondisi tersebut tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan kombinasi pemangkasan kuota produksi, belum tuntasnya persetujuan RKAB, hingga tekanan ekonomi global.
Dalam beberapa bulan terakhir, sektor pertambangan batu bara di Kalimantan Timur mengalami gelombang PHK yang cukup signifikan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Forum Komunikasi IUP-IKN, lebih dari 1.070 pekerja telah kehilangan pekerjaan, sedangkan sekitar 250 pekerja masih dirumahkan. Apindo Kalimantan Timur menilai bahwa kondisi tersebut tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan kombinasi pemangkasan kuota produksi, belum tuntasnya persetujuan RKAB, hingga tekanan ekonomi global.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
