Sorot Indonesia – Harga emas melonjak lebih dari 2% usai data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, menciptakan sentimen positif di kalangan investor. Lonjakan ini terjadi setelah publikasi data inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan, yang sebagian besar diharapkan dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

Pada perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 31 Juli 2026, harga emas spot mencatatkan kenaikan sebesar 1,1%, mencapai US$ 4.109,94 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus juga mengalami kenaikan sebesar 1,9%, menjadi US$ 4.108,30 per ons. Kenaikan ini terjadi di tengah melemahnya nilai dolar AS yang turun 0,9%, memberikan ruang bagi harga emas untuk bergerak naik.

Baca juga:

Data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan ini memicu harapan di antara para trader bahwa The Fed mungkin akan menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Hal ini diungkapkan oleh para analis yang mencatat bahwa inflasi yang melandai akan mengurangi tekanan pada kebijakan moneter. Kevin Warsh, Ketua The Fed, belum memberikan kejelasan mengenai kebijakan suku bunga mendatang, tetapi pernyataannya menunjukkan komitmen untuk menurunkan inflasi tanpa terburu-buru menaikkan suku bunga.

Selama periode ini, harga emas mencatatkan penguatan bulanan terbesar sejak Februari, dengan kenaikan 0,5% sepanjang Juli. Meskipun harga emas hampir mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat bulan berturut-turut, pasar tetap mencemaskan kemungkinan terjadinya kenaikan harga yang signifikan di atas level psikologis $4.000.

Penguatan harga emas ini juga didorong oleh penurunan harga minyak kembali ke tingkat sebelum konflik di Timur Tengah, yang sebelumnya telah mendorong inflasi. Analis Bybit, Han Tan, menjelaskan bahwa meskipun emas menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tantangan tetap ada untuk mencapai level harga yang lebih tinggi secara signifikan.

Selanjutnya, para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan di Timur Tengah, yang dapat mempengaruhi harga minyak dan inflasi secara keseluruhan. Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, menyatakan bahwa meskipun inflasi saat ini terlihat terkendali, ketegangan di Timur Tengah dapat membawa dampak yang signifikan, membuat situasi ini tetap perlu diawasi.

Dalam konteks ini, para investor yang mengandalkan emas sebagai aset safe haven mungkin akan lebih optimis, mengingat harga emas melonjak lebih dari 2% usai data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan. Kenaikan ini menyiratkan bahwa emas masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian global.

Dengan semua faktor ini, harga emas diprediksi akan tetap berfluktuasi, tergantung pada perkembangan inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed. Masyarakat dan investor diharapkan tetap waspada terhadap berita ekonomi dan geopolitik yang dapat mempengaruhi pasar emas di masa yang akan datang.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.