Sorot Indonesia – Pemerintah Malaysia kini tengah melakukan penyelidikan terkait kerugian investasi yang dialami oleh Dana Pensiun Malaysia, Kumpulan Wang Persaraan (Diperbadankan) atau KWAP, di startup akuakultur eFishery. Kerugian mencapai RM 200 juta atau sekitar Rp 878,6 miliar ini diduga disebabkan oleh praktik manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh mantan CEO eFishery, Gibran Huzaifah.
Kasus ini bermula ketika KWAP berinvestasi di eFishery pada Juli 2023, dalam putaran pendanaan Seri D yang berhasil mengumpulkan total dana sebesar US$ 200 juta (sekitar Rp 3,05 triliun). Dari jumlah tersebut, sekitar RM 163,4 juta diinvestasikan oleh KWAP, yang setara dengan 2,51% dari total kepemilikan saham eFishery. Namun, laporan keuangan yang disampaikan oleh manajemen eFishery kepada investor menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami keuntungan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam laporan yang disusun oleh FTI Consulting, terungkap bahwa eFishery mengklaim meraih pendapatan sebesar US$ 752 juta selama periode Januari hingga September 2024, dan mengaku mendapatkan laba sebesar US$ 16 juta. Faktanya, perusahaan justru mengalami kerugian sekitar US$ 35,4 juta, dan total kerugian yang dilaporkan bisa mencapai US$ 152 juta hingga November 2024. Manipulasi ini mencakup penggelembungan pendapatan hampir 75% dari angka yang dilaporkan.
Gibran Huzaifah, yang kini menghadapi konsekuensi hukum, mengakui bahwa tindakan tersebut diambil sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan perusahaan di tengah tantangan pendanaan yang dihadapi. Penyelidikan oleh Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) ini bertujuan untuk mengungkap lebih dalam tentang modus yang digunakan dalam manipulasi data ini.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, telah menegaskan bahwa kasus ini merupakan penipuan terencana dan tidak hanya merugikan KWAP, tetapi juga sejumlah investor besar lainnya seperti Temasek Holdings dan SoftBank Group. Anwar menyatakan bahwa meskipun investasi KWAP telah melalui berbagai proses evaluasi dan audit oleh auditor internasional, sistem tersebut gagal mendeteksi adanya manipulasi yang terjadi.
Dalam upaya memulihkan dana yang hilang, KWAP kini sedang menempuh jalur hukum dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengawasan investasinya. Selain itu, MACC juga membentuk tim investigasi khusus untuk memastikan bahwa semua proses dilakukan secara adil dan transparan.
Kasus ini tidak hanya menyoroti potensi risiko yang dihadapi oleh investor dalam startup teknologi, tetapi juga pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam laporan keuangan. Pemerintah Malaysia berharap bahwa langkah-langkah yang diambil dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
