Sorot Indonesia – Jakarta, VIVA – Tiga peserta SPPI meninggal, Latsarmil dinilai tak relevan [titlebase]. Kabar duka datang dari Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), di mana lima peserta yang mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil) dilaporkan meninggal dunia. Insiden ini terjadi dalam konteks pelatihan untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, mengekspresikan belasungkawa yang mendalam terhadap keluarga para peserta yang meninggal dunia. Menurutnya, peristiwa ini menjadi momen penting untuk mengevaluasi secara menyeluruh penyelenggaraan program, baik dari segi keselamatan peserta maupun efektivitas kurikulum pelatihan. Nurdin menekankan bahwa keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pengembangan sumber daya manusia, tanpa mengurangi kualitas pembentukan kompetensi yang diperlukan untuk mengelola koperasi secara profesional.
“Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun, latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode yang lebih relevan dengan tugas mereka,” ujar TB Hasanuddin, anggota Komisi I DPR dari PDI Perjuangan, dalam keterangannya.
Insiden ini juga memicu desakan dari berbagai pihak agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian pelatihan. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen Ketut Gede Wetan, menyatakan bahwa kelima peserta yang meninggal telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. Namun, Kemenhan membantah bahwa aktivitas fisik yang berat menjadi penyebab utama meninggalnya peserta tersebut. Ketut menjelaskan bahwa kurikulum latsarmil dirancang secara bertahap, menekankan pembentukan karakter dan kedisiplinan, bukan latihan fisik berat.
Dalam konferensi pers, Ketut juga mengungkapkan bahwa setiap peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda dan sudah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebelum mengikuti pelatihan. Namun, akibat dari insiden ini, pemerintah harus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap desain pelatihan untuk memastikan keselamatan peserta tidak terabaikan.
Berikut adalah daftar nama peserta SPPI yang meninggal dunia:
- Yonanda Muhammad Taufiq
- Anisa Muyassaroh
- Novia Rahmadhani Sihotang
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
- Nola Dya Sari
Kemenhan juga mengumumkan bahwa santunan sebesar Rp 50 juta akan diberikan kepada masing-masing keluarga peserta yang meninggal. Hal ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.
Melihat kejadian tragis ini, politisi dari berbagai partai meminta agar pemerintah menghentikan sementara latihan militer bagi calon manajer kopdes. Mereka menilai bahwa pelatihan ini tidak relevan dan perlu diganti dengan metode yang lebih sesuai dengan latar belakang peserta yang merupakan masyarakat sipil.
Dengan tragedi yang menimpa lima peserta SPPI ini, diharapkan pemerintah dapat mengambil langkah cepat dan tepat untuk mengevaluasi serta memperbaiki program pelatihan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Keselamatan peserta harus menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan pelatihan, demi menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tanpa mengorbankan nyawa.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
