Sorot Indonesia – Perekonomian Indonesia menghadapi tekanan cukup berat sepanjang 2026, terutama dari sisi tata kelola pasar keuangan, kondisi fiskal, dan gejolak geopolitik global. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menjelaskan bahwa beberapa persoalan ini telah menekan kepercayaan investor dan nilai tukar rupiah. Tekanan mulai terasa pada akhir Januari 2026 ketika MSCI membekukan aksi rebalancing terhadap saham-saham Indonesia, yang berkaitan dengan persoalan transparansi dan tata kelola di pasar modal Indonesia. Beberapa pekan kemudian, lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan S&P Global Ratings menurunkan prospek ekonomi Indonesia menjadi negatif, menyoroti sejumlah risiko, antara lain tata kelola fiskal, transparansi kebijakan, serta potensi contingent liabilities dari Dana Abadi Terbatas (Danatara) terhadap postur fiskal pemerintah.
Gejolak geopolitik meluas di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, memicu gangguan pada perdagangan global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap pasokan energi. Kondisi tersebut memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven, serta kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah. Kombinasi kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM), sehingga membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas.
APBN juga menghadapi tekanan dari tingginya kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Pada tahun 2025, perekonomian Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5,12 persen, sedangkan sektor perbankan menunjukkan kinerja yang baik dengan rata-rata pertumbuhan kredit sebesar 10,48 persen. Pertumbuhan Dana Pihak ketiga (DPK) juga tetap positif, meskipun fluktuatif. Namun, capaian kinerja perekonomian dan sektor perbankan tersebut tidak dapat menghilangkan tekanan eksternal dan internal yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia.
Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat. Perekonomian Indonesia harus tetap waspada terhadap gejolak geopolitik dan tekanan fiskal, serta melakukan upaya untuk meningkatkan transparansi kebijakan dan efisiensi belanja untuk mempertahankan kepercayaan investor dan nilai tukar rupiah.
LPEM UI menekankan perlunya transparansi kebijakan, efisiensi belanja, independensi bank sentral, serta komunikasi publik. Dengan demikian, perekonomian Indonesia dapat tetap stabil dan berkembang dalam jangka panjang.
Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat. Perekonomian Indonesia harus tetap waspada terhadap gejolak geopolitik dan tekanan fiskal, serta melakukan upaya untuk meningkatkan transparansi kebijakan dan efisiensi belanja untuk mempertahankan kepercayaan investor dan nilai tukar rupiah.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
