Sorot Indonesia – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak setelah serangan AS terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, yang mengancam meluasnya konflik menjadi perang terbuka. Situasi ini semakin rumit setelah dua kapal tanker yang melintasi jalur tersebut dilaporkan mengalami ledakan akibat ketegangan yang meningkat di kawasan ini.
Menurut laporan terbaru, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis hingga 66 persen akibat blokade yang diterapkan oleh AS dan larangan dari Iran. Hal ini membuat pemilik armada global memilih untuk menghentikan pelayaran guna menghindari risiko serangan di jalur vital yang menyuplai seperlima kebutuhan energi dunia tersebut. Analis memperingatkan bahwa jika konflik ini berlanjut, harga minyak global bisa melonjak hingga 100 dolar per barel.
Pada Senin (20/7/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa dua kapal tanker minyak meledak saat berusaha melintasi bagian selatan Selat Hormuz. IRGC menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut beroperasi di bawah tekanan militer AS dan tidak dapat melanjutkan pelayaran. Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa selama agresi AS berlangsung, jalur tersebut tidak akan aman untuk pengiriman minyak, gas, maupun pupuk.
IRGC juga memperingatkan bahwa militer AS harus bersiap menghadapi pembalasan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran ilegal. Sementara itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya kebakaran kapal di perairan dekat Oman, meskipun penyebabnya belum bisa diverifikasi secara independen.
Ketegangan di Selat Hormuz telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu. Iran menanggapi dengan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset-aset AS. Meskipun kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik, ketegangan kembali meningkat pekan lalu dengan aksi saling serang yang berlanjut.
Korps Garda Revolusi Iran juga menegaskan bahwa mereka akan memastikan tidak ada setetes pun minyak atau gas yang bisa keluar dari Selat Hormuz jika agresi AS terus berlanjut. Hal ini menggambarkan betapa seriusnya situasi yang terjadi dan potensi terjadinya konflik bersenjata yang lebih luas.
Seiring dengan meningkatnya ketegangan ini, para pengusaha pelayaran semakin berhati-hati dan banyak yang memilih untuk tidak melintasi Selat Hormuz. Penurunan drastis lalu lintas kapal tanker, dari 90 pelayaran menjadi hanya 30 armada, menunjukkan dampak nyata dari konflik ini terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di tengah situasi yang semakin memanas ini, penting bagi kedua belah pihak untuk mencari solusi damai sebelum konflik dapat meluas menjadi perang terbuka yang lebih besar. AS serang kapal tanker minyak di Selat Hormuz, ketegangan dengan Iran terancam meluas jadi perang terbuka [titlebase] adalah pengingat akan risiko yang dihadapi dunia jika ketegangan ini tidak dikelola dengan baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
