Sorot Indonesia – Keributan hebat terjadi di Komplek Bumi Asri, Kota Medan, saat proses Cash on Delivery (COD) mobil Honda WR-V, di mana prajurit TNI dan seorang warga sipil dikeroyok oleh 50 orang setelah diteriaki maling. Peristiwa ini mengundang perhatian masyarakat dan viral di media sosial setelah rekaman kejadian tersebut beredar luas.

Kejadian ini bermula ketika Immanuel Saragi, pemilik mobil Honda WR-V berusia 30 tahun, berusaha mendapatkan kembali mobilnya yang telah dilarikan oleh komplotan penipu. Mobil tersebut, yang sebelumnya dijual melalui Facebook dengan harga Rp 60 juta, dilarikan oleh beberapa orang yang mengaku sebagai pembeli. Setelah melapor ke pihak kepolisian, Immanuel akhirnya menemukan mobilnya yang dipasarkan di marketplace dengan harga Rp 114 juta.

Baca juga:

Pada 28 Juli 2026, Immanuel bersama kakaknya yang menyamar sebagai pembeli, mendatangi lokasi COD di Komplek Bumi Asri untuk bertransaksi. Mereka didampingi oleh dua prajurit TNI untuk menjamin keamanan. Namun, ketika transaksi berlangsung, sekelompok orang yang menyadari situasi tersebut meneriaki mereka sebagai maling.

Situasi semakin memanas ketika sekelompok massa berjumlah sekitar 50 orang berkumpul dan melakukan penganiayaan terhadap Immanuel dan kedua prajurit TNI tersebut. Immanuel menjelaskan, saat itu dirinya tidak mengetahui bahwa teriakan maling tersebut akan memicu kericuhan besar. “Kami hanya ingin mengembalikan mobil yang telah dicuri,” ujarnya.

Insiden tersebut berlanjut hingga pihak kepolisian tiba di lokasi. Masyarakat yang menyaksikan kericuhan ini tampaknya tidak mengetahui kronologi sebenarnya dan terpengaruh oleh provokasi dari teriakan maling. Akibatnya, Immanuel dan dua anggota TNI yang bersamanya mengalami luka-luka akibat pengeroyokan.

Pihak kepolisian setempat segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas para pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan ini. Immanuel berharap agar tindakan hukum dapat diambil agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. “Saya ingin keadilan, karena kami hanya ingin mengambil kembali hak kami,” tambahnya.

Peristiwa ini bukan hanya mencerminkan masalah penipuan yang marak terjadi di dunia jual beli online, tetapi juga menunjukkan perlunya edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang tampaknya membahayakan. COD Honda WR-V diteriaki maling, prajurit TNI dan satu warga sipil babak belur dikeroyok 50 orang menjadi pelajaran penting bagi semua pihak yang terlibat dalam transaksi jual beli.

Di tengah maraknya penipuan yang terjadi, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan memastikan keamanan saat melakukan transaksi COD. Pihak berwenang juga diminta untuk lebih aktif dalam menangani kasus-kasus penipuan agar pelaku dapat diadili dan tidak merugikan masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.