Sorot Indonesia – JAYAPURA, KOMPAS.com – Kapolda Papua, Kombes Pol Parasian Herman Gultom, mengumumkan bahwa pihaknya akan memprioritaskan upaya penyelamatan dua anggota polisi yang hilang di lokasi ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Biak. Insiden tragis ini terjadi pada 31 Mei 2026 dan mengakibatkan lima orang tersangka, yang semuanya adalah warga sipil, meninggal dunia.

Ledakan tersebut terjadi di Kompleks Perikanan, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Kombes Parasian menyatakan bahwa pihaknya saat ini fokus untuk mencari dua anggota polisi yang belum ditemukan. “Kami akan utamakan selamatkan dua polisi yang masih hilang [titlebase]. Kami berharap mereka dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” ungkapnya.

Baca juga:

Dalam pernyataannya, ia juga menjelaskan bahwa penyidikan terhadap kasus ledakan tersebut telah dihentikan setelah kelima tersangka yang ditetapkan juga menjadi korban dalam insiden ini. “Hasil penyidikan awal menunjukkan bahwa kelima orang tersebut terlibat dalam aktivitas memotong mortir yang mengandung bahan peledak aktif, yang kemudian memicu ledakan,” lanjutnya.

Kabid Laboratorium Forensik Polda Papua, AKBP I Gede Suhartawan, mengungkapkan bahwa titik pusat ledakan berada di kolong rumah salah satu warga. Besarnya ledakan tersebut dapat dilihat dari kawah yang terbentuk dengan diameter sekitar 3,6 meter dan kedalaman sekitar 80 sentimeter. “Ledakan ini sangat besar, dan serpihannya ditemukan hingga puluhan meter dari lokasi,” tambahnya.

Kapolda juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap barang-barang yang diduga peninggalan Perang Dunia II. “Kami mengimbau warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan, terutama saat menemui benda-benda yang mencurigakan,” katanya.

Proses pencarian dua anggota polisi yang hilang ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tim SAR dan masyarakat setempat. “Kami bekerja sama dengan semua elemen untuk memastikan dua polisi yang masih hilang [titlebase] dapat ditemukan secepatnya,” imbuh Kapolda. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan masyarakat adalah prioritas utama.

Kasus ini juga mengundang perhatian dari berbagai kalangan, termasuk para aktivis hak asasi manusia dan pemerhati keselamatan publik. Mereka mendesak pihak berwenang untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi mengenai bahaya barang-barang peninggalan perang, yang masih dapat ditemukan di berbagai lokasi di Indonesia.

Dengan berakhirnya penyidikan terhadap kelima tersangka yang meninggal, kini fokus Polda Papua adalah pada upaya penyelamatan dan pencarian dua polisi yang hilang. Kapolda utamakan selamatkan dua polisi yang masih hilang [titlebase] menjadi slogan yang menggugah semangat tim pencari di lapangan.

Ke depannya, diharapkan pihak kepolisian dapat memberikan informasi yang lebih jelas dan transparan kepada masyarakat mengenai langkah-langkah yang diambil untuk mencegah kejadian serupa. Keselamatan publik harus tetap menjadi perhatian utama agar tragedi seperti ini tidak terulang.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.