Sorot Indonesia – TEHERAN, KOMPAS.com – Iran bangun kembali aset-aset militer yang dibom musuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Dalam beberapa bulan terakhir, negara ini telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memperbaiki dan membangun kembali infrastruktur militer yang rusak akibat serangan dari Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Washington, yang mulai merasakan dampak dari taktik baru Iran dalam menghadapi ancaman militer.
Strategi Iran dalam konflik ini tidak hanya bergantung pada senjata canggih, tetapi juga pada kontrol mereka atas Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang sangat vital. Menurut Direktur Program Ally and Partner Security Affairs di Center for Naval Analyses, Joshua Tallis, kemampuan Iran untuk menimbulkan dampak ekonomi global melalui serangan terhadap jalur ini menjadi senjata yang lebih efektif daripada senjata nuklir. “Iran bangun kembali aset-aset militer yang dibom musuh lebih cepat dari yang diperkirakan, menjadi keunggulan strategis yang signifikan dalam menghadapi AS,” ujarnya.
Pada bulan Juli 2026, militer AS melaporkan serangan rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran. Meskipun serangan ini berhasil dicegat, ketegangan antara kedua negara terus meningkat. Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras setelah serangan tersebut, menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi yang berat. Hal ini terjadi setelah operasi militer gabungan antara AS dan Arab Saudi yang menargetkan pasukan dukungan Iran di Irak.
Iran kini menerapkan taktik baru dalam meluncurkan rudal, yang bertujuan untuk membingungkan sistem pertahanan udara AS. Dengan menggunakan rudal balistik Kheibar Shekan yang diluncurkan secara bersamaan dengan drone berkecepatan tinggi, Iran berusaha untuk meningkatkan efektivitas serangannya. Pejabat pertahanan AS mengakui bahwa pendekatan ini membuat sistem pertahanan mereka kesulitan dalam menghitung dan mengantisipasi serangan.
Selain itu, militer Iran juga telah meningkatkan frekuensi serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Pada 18 Juli 2026, Iran meluncurkan serangan rudal ke arah pasukan AS, yang mengakhiri jeda sementara dalam pertempuran. Meskipun semua rudal berhasil dicegat, ketegangan di kawasan tersebut tetap tinggi. Kementerian Pertahanan Arab Saudi juga melaporkan bahwa mereka berhasil menjatuhkan drone-drone yang diluncurkan oleh milisi yang disokong Iran.
Dalam konteks ini, keputusan Trump untuk menunda serangan militer besar terhadap Iran menunjukkan adanya pertimbangan mendalam tentang risiko yang dihadapi oleh militer AS. Kekhawatiran akan menipisnya persediaan rudal pencegat membuat keputusan tersebut semakin kompleks. Namun, beberapa pejabat militer percaya bahwa AS masih memiliki kemampuan untuk menghadapi serangan Iran dan mempertahankan posisi strategisnya di kawasan.
Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS menunjukkan bahwa Iran bangun kembali aset-aset militer yang dibom musuh lebih cepat dari yang diperkirakan, dan hal ini menimbulkan ancaman yang serius bagi stabilitas kawasan. Dengan kontrol atas jalur perdagangan energi dan taktik militer yang inovatif, Iran semakin memperkuat posisinya di medan perang yang kompleks ini.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
