Sorot Indonesia – TEHERAN, KOMPAS.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas setelah eks Menteri Luar Negeri Iran mendesak serangan darat ke pangkalan militer AS. Seruan ini berfokus pada penangkapan ribuan tentara AS dan membawanya ke Teheran. Dalam konteks ini, Iran baru-baru ini mengancam akan menggempur negara-negara Teluk jika AS melakukan serangan lebih lanjut.

Ancaman tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam serangkaian pertemuan dengan para pemimpin negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Turkiye. Iran mengingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan direspons dengan serangan terhadap infrastruktur energi vital di kawasan tersebut. Araghchi menekankan pentingnya diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Baca juga:

Pada 4 Agustus 2026, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan serangan drone terhadap pangkalan militer AS di Kuwait. Tiga drone dikabarkan menghantam fasilitas tersebut, menyebabkan ledakan besar yang terdengar hingga ke Provinsi Basra, Irak. Serangan ini menjadi bagian dari respons Iran terhadap ancaman yang diucapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan keinginannya untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran.

Namun, konflik ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran mengklaim telah menyerang beberapa fasilitas penting di Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber, Kuwait, yang merupakan pusat utama untuk operasi udara AS. Serangan ini menargetkan hanggar pesawat, sistem komunikasi satelit, dan gudang peralatan militer. Iran menyebut bahwa serangan ini adalah balasan terhadap serangan militer AS sebelumnya yang menargetkan wilayah Iran.

Dalam konteks yang lebih luas, eks menlu Iran desak serangan darat ke pangkalan militer AS: tangkap ribuan tentara, bawa ke Teheran, menjadi suara yang menggema di dalam pemerintahan Iran. Pihak berwenang Iran menganggap langkah agresif ini sebagai respons yang perlu dilakukan untuk melindungi kedaulatan negara mereka dari ancaman luar.

Sementara itu, Trump mengklaim bahwa negosiasi antara AS dan Iran akan berlanjut, meskipun Iran membantahnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dengan AS, dan saat ini fokus pada perundingan dengan Oman terkait kontrol di Selat Hormuz.

Presiden AS kemudian mengeluarkan pernyataan keras, menekankan bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan sebelum AS melancarkan serangan besar yang lebih mematikan. Dengan ketegangan yang terus meningkat, Iran tampaknya bersiap untuk melakukan lebih banyak tindakan militer terhadap AS dan sekutunya di kawasan.

Eks menlu Iran desak serangan darat ke pangkalan militer AS: tangkap ribuan tentara, bawa ke Teheran, menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dari posisinya. Dalam pernyataan resminya, Iran menyatakan bahwa mereka akan melakukan segala upaya untuk melindungi wilayah dan kepentingan nasional mereka, bahkan jika itu berarti mengambil tindakan yang lebih agresif.

Dengan situasi yang semakin tidak menentu ini, masa depan hubungan antara AS dan Iran semakin suram, dan potensi konflik bersenjata di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.