Sorot Indonesia – Bandara Kertajati bakal jadi pangkalan dan bengkel pesawat TNI AU, dukung operasional [titlebase] sebagai langkah strategis dalam memperkuat pertahanan udara nasional. Kabar ini mencuat seiring dengan penguatan struktur permodalan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang diproyeksikan melonjak dari Rp 2,5 triliun menjadi Rp 8 triliun. Penyertaan modal tersebut tidak hanya berupa kas, tetapi juga pengalihan aset tanah (inbreng) di kawasan strategis bandara. Kepala Biro Binaan BUMD, Investasi, dan Administrasi Pembangunan (BIA) Setda Jabar, Deny Hermawan, menyatakan bahwa peningkatan modal dasar ini akan menjadi fondasi hukum sebelum Pemprov Jawa Barat mengucurkan tambahan modal. “Nanti ada peningkatan modal dasar dari Rp 2,5 triliun jadi Rp 8 triliun. Salah satunya dalam bentuk tanah,” ujarnya di Bandung.
Rencana ini mendapat lampu hijau dari DPRD Jawa Barat. Mayoritas fraksi sepakat membawa Raperda Perubahan Kedua Perda Nomor 22 Tahun 2013 tentang Pembentukan BUMD Pengelola Bandara Kertajati ke tingkat Panitia Khusus (Pansus). Dukungan legislatif didasari posisi BIJB Kertajati sebagai pilar transportasi nasional dan pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning). Anggota DPRD Jawa Barat, Toto Suharto, menegaskan bahwa penguatan struktur hukum dan keuangan BIJB Kertajati sangat mendesak. “Kondisi kini perlu penguatan, BIJB juga untuk motor penggerak ekonomi khususnya wilayah Jawa Barat bagian timur,” ujar Toto yang juga Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jabar.
Di sisi lain, TNI AU tengah mempersiapkan kedatangan 18 jet tempur Rafale secara bertahap mulai 2027 hingga 2029. Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi, mengungkapkan hal ini di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. “Berikutnya di tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 (jet tempur Rafale) secara bertahap. Ketibaan alutsista itu diperkirakan bertahap sampai 2029,” ungkapnya. Sejauh ini, Indonesia telah menerima enam Rafale dari total 42 unit yang dipesan. Enam jet tempur tersebut ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, yang dinilai strategis untuk mengamankan wilayah udara bagian barat Indonesia dan Selat Malaka.
Kontrak tahap pertama enam Rafale bernilai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15,7 triliun. Estimasi total anggaran pembelian 42 pesawat mencapai sekitar Rp109,9 triliun. Empat pilot TNI AU juga telah menuntaskan pelatihan pengoperasian Rafale di Pangkalan Udara 113 Saint-Dizier, Prancis, pada Desember 2025. Mereka merupakan tim pilot Rafale Batch-A yang menjalani pelatihan selama empat bulan sejak Agustus 2025. Rafale sendiri debut pada HUT ke-81 RI di atas langit Monas, Jakarta Pusat, dengan menampilkan manuver High G-turn yang mengesankan. KSAU Marsekal Tonny Harjono menyatakan bahwa manuver tersebut dipilih untuk menunjukkan kemampuan Rafale. “Kami ingin tunjukkan kepada Bapak Presiden dan masyarakat soal kemampuan High-G turn ini yang bagus sekali,” ujarnya.
Dengan adanya peningkatan modal dan dukungan pemerintah daerah, Bandara Kertajati bakal jadi pangkalan dan bengkel pesawat TNI AU, dukung operasional [titlebase] secara lebih optimal. Bandara ini tidak hanya akan melayani penerbangan komersial, tetapi juga menjadi basis pertahanan udara yang strategis. Hal ini sejalan dengan kebutuhan TNI AU untuk memiliki pangkalan yang mampu menampung dan merawat alutsista modern seperti Rafale. Selain itu, keberadaan bengkel pesawat di Kertajati akan mempercepat proses pemeliharaan dan perbaikan, sehingga kesiapan operasional pesawat tempur dapat terjaga. Pengamat militer menilai langkah ini sebagai terobosan dalam penguatan pertahanan udara nasional, terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan Bandara Kertajati, termasuk melalui penyertaan modal dan penyediaan infrastruktur pendukung. Diharapkan dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, TNI AU, dan pemangku kepentingan lainnya, Bandara Kertajati bakal jadi pangkalan dan bengkel pesawat TNI AU, dukung operasional [titlebase] secara berkelanjutan. Hal ini juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan konektivitas di kawasan Ciayumajakuning.
Ke depan, TNI AU akan terus mempersiapkan diri menyambut kedatangan 18 Rafale pada 2027. Selain penempatan di Lanud Roesmin Nurjadin, beberapa unit kemungkinan akan ditempatkan di Kertajati untuk mendukung operasi di wilayah timur Jawa Barat. Dengan demikian, Bandara Kertajati bakal jadi pangkalan dan bengkel pesawat TNI AU, dukung operasional [titlebase] dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia. Peningkatan modal BIJB Kertajati menjadi Rp 8 triliun menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan bandara ini sebagai pusat pertahanan dan ekonomi.
Secara keseluruhan, langkah ini merupakan bagian dari modernisasi alutsista TNI AU dan penguatan infrastruktur pertahanan. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat mempercepat terwujudnya Bandara Kertajati sebagai pangkalan dan bengkel pesawat TNI AU yang handal. Dukungan dari DPRD Jawa Barat dan kementerian terkait menjadi kunci suksesnya. Masyarakat pun berharap agar pembangunan ini membawa manfaat besar bagi pertahanan negara dan kesejahteraan rakyat.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
