Sorot IndonesiaMenteri Pertahanan AS klaim terapkan blokade besi di Selat Hormuz, sebut Iran tak bisa setop operasi. Ini menjadi konflik yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan Amerika Serikat (AS) menembak jatuh dua drone Iran yang diduga hendak menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (11/6/2026) waktu setempat.

Seorang pejabat AS mengatakan drone tersebut berhasil dicegat sebelum menimbulkan gangguan terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan itu. “Tam&ampshy;paknya Iran telah berupaya menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz malam ini. Pasukan AS menembak jatuh dua drone serang satu arah milik Iran. Arus lalu lintas melalui selat tetap berlanjut,” kata pejabat tersebut, dikutip dari Anadolu Agency , Kamis.

Baca juga:

Meski demikian, pejabat tersebut tidak menjelaskan secara rinci kapal mana yang menjadi sasaran maupun kemungkinan kerusakan akibat insiden tersebut. Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Trump menyebut kesepakatan tersebut bisa ditandatangani “segera, mungkin akhir pekan ini”. Ia juga mengatakan Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan penasihat Jared Kushner akan mewakili AS dalam kemungkinan penandatanganan di Eropa. Baca juga: 12 Rudal Disiapkan Iran untuk Hantam Pangkalan AS, Respons Serangan Amerika

Di tengah upaya diplomasi tersebut, AS dan Iran justru kembali saling melancarkan serangan di berbagai wilayah Timur Tengah untuk hari kedua berturut-turut. Jangan Biarkan Laut China Selatan Menjadi Hormuz Kedua Ketua Soedirman Center for Global Studies, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

PADA akhir Maret 2026, Filipina mengumumkan darurat energi nasional. Penyebabnya bukan bencana alam, bukan pula kegagalan kebijakan domestik, melainkan sebuah selat sempit yang jaraknya hampir tujuh ribu kilometer dari Manila. Ketika Selat Hormuz lumpuh akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, negara kepulauan di Asia Tenggara itulah yang lebih dulu jatuh. Hampir seluruh minyak mentah Filipina diimpor dari Timur Tengah, tanpa cadangan strategis yang memadai.

Pengalaman pahit itu agaknya membekas. Awal Juni ini, Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro menyampaikan peringatan yang layak kita renungkan bersama: Laut China Selatan tidak boleh menjadi Selat Hormuz berikutnya. Kalimat itu bukan retorika kosong. Ia lahir dari kesadaran bahwa apa yang terjadi di Teluk bisa terjadi di halaman rumah kita sendiri, dengan skala kerusakan yang jauh lebih besar.

Baca juga:

Hormuz dan Laut China Selatan berbagi tiga ciri struktural yang membuat keduanya rawan menjadi instrumen penyanderaan ekonomi global. Pertama, konsentrasi arus perdagangan. Hormuz menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kedua, kemampuan menghambat arus lalu lintas. Laut China Selatan diprediksi akan menjadi peta bagi kegagalan kebijakan China. Ketiga, potensi konflik yang terus meningkat.

Hal ini membuat Filipina khawatir dengan potensi kegagalan kebijakan China, yang dapat mempengaruhi pasokan energi dan kemampuan ekonomi negara kepulauan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Maria Theresa Lazaro menekankan pentingnya menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan Laut China Selatan.

Perlu diingat bahwa konflik di Timur Tengah dan potensi kegagalan kebijakan China di Laut China Selatan memiliki dampak yang signifikan bagi keamanan dan stabilitas global. Oleh karena itu, penting bagi negara-negara di kawasan ini untuk bekerja sama dan membangun keamanan dan kestabilan bersama.

Kesimpulan