Sorot Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami penguatan signifikan pada penutupan perdagangan yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026. Rosan Roeslani beberkan faktor yang bikin rupiah dan IHSG menguat lagi, dimana momen positif ini dipicu oleh serangkaian kebijakan pemerintah dan dampak dari kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini membuat pasar kembali optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Data dari RTI Business menunjukkan bahwa IHSG menguat hingga 4,12% mencapai level 6.254,96, sementara nilai tukar rupiah juga berhasil menguat sebesar 0,85% terhadap dolar AS, menutup perdagangan di level Rp 17.708. Sebelum penutupan, rupiah bahkan sempat mencapai level Rp 17.673,5, menguat 1,04% pada pukul 11.26 WIB.
Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, menegaskan bahwa kepercayaan investor mulai pulih kembali setelah pertemuan yang dilakukan dengan sekitar 122 investor dari AS. Dalam pertemuan tersebut, investor diberikan penjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah serta inisiatif Danantara dalam mendukung perekonomian nasional.
“Investor sebelumnya sempat ragu, namun setelah mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai kondisi ekonomi Indonesia, persepsi mereka mulai berubah menjadi lebih positif,” ungkap Rosan. Ia menambahkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari langkah-langkah proaktif yang diambil oleh pemerintah dan Danantara dalam membangun kembali kepercayaan pasar.
Dalam konteks ini, Nafan Aji Gusta, seorang Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa penguatan IHSG didorong oleh sentimen global, khususnya setelah kesepakatan damai antara AS dan Iran yang diharapkan akan membuka kembali Selat Hormuz. Ini berimbas pada penurunan harga minyak dunia yang juga berkontribusi mengurangi kekhawatiran inflasi global.
Rosan juga menggarisbawahi bahwa penguatan ini diharapkan akan berlanjut meskipun pasar mungkin akan mengalami volatilitas jangka pendek. “Dinamika pasar adalah hal yang wajar. Jika IHSG mengalami penurunan, itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, karena pasar memiliki siklusnya sendiri,” jelasnya.
Keberhasilan Danantara dalam memulihkan kepercayaan investor juga didukung oleh transparansi dan tata kelola yang baik dalam pengelolaan investasi. Bagi investor global, jangka waktu investasi yang panjang menjadi pertimbangan utama, sehingga mereka tidak tergoyahkan oleh fluktuasi harga saham jangka pendek.
Rosan Roeslani menambahkan bahwa dengan kebijakan yang jelas dan terbuka, prospek investasi di Indonesia akan terus menarik perhatian para investor global. “Momen ini sangat penting untuk kita bangun kembali kepercayaan mereka terhadap pasar modal kita,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia, menunjukkan bahwa investor mulai kembali percaya dengan fundamental ekonomi yang ada. Jika momentum ini dapat dipertahankan, maka Indonesia berpotensi untuk menarik lebih banyak investasi di masa depan.
