Sorot Indonesia – Bandara Soekarno-Hatta jadi bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara [titlebase] berdasarkan data Official Airline Guide (OAG) September 2026. Pencapaian ini menjadi sorotan di tengah industri penerbangan kawasan yang terus tumbuh. Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatatkan kapasitas 3,24 juta kursi penerbangan, meningkat 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Posisi puncak masih dipegang Singapore Changi Airport dengan 3,45 juta kursi, disusul Kuala Lumpur International Airport di peringkat ketiga dengan 3,18 juta kursi yang justru turun 2,6%.

Keberhasilan Bandara Soekarno-Hatta jadi bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara [titlebase] tidak lepas dari peran besar pasar domestik Indonesia. Data OAG menunjukkan Indonesia masih menjadi raja pasar penerbangan Asia Tenggara dengan total 10,83 juta kursi, tumbuh 7,3% secara tahunan. Pasar domestik kawasan naik 3,5% menjadi 21,5 juta kursi, sementara penerbangan internasional hanya tumbuh tipis 0,7% menjadi 26,5 juta kursi. Hal ini menegaskan bahwa permintaan perjalanan udara di dalam negeri menjadi motor utama pertumbuhan.

Baca juga:

Meski menorehkan prestasi, Bandara Soekarno-Hatta sempat mengalami penutupan total pada 6 September 2026 akibat abu vulkanik. Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau Injourney Airports, Agus Haryadi, mengungkapkan bahwa kerugian akibat penutupan dua hari tersebut diperkirakan mencapai Rp40 miliar. “Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp40 miliar ada kali dalam dua hari itu. Nah, tapi tentu kami tidak memikirkan itu,” ujar Agus dalam diskusi di Mercure Bandung City Centre, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Agus menegaskan bahwa penutupan bandara adalah keputusan sulit yang harus diambil demi keselamatan penerbangan. Hasil pemeriksaan BMKG menunjukkan abu vulkanik cukup tebal. “Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Alasan pertamanya adalah keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” tegasnya. Peristiwa ini tercatat sebagai penutupan total pertama sejak tahun 1992. Selama 35 tahun, Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah tutup total, bahkan saat pandemi COVID-19 status bandara tetap open. Penutupan kali ini berdampak pada sekitar 130.000 penumpang, dan jika ditambah bandara lain seperti Halim Perdanakusuma, Tanjung Karang, serta Husein Sastranegara, total penumpang terdampak mencapai lebih dari 200.000 orang.

Di sisi lain, daftar 10 bandara tersibuk Asia Tenggara September 2026 juga dihuni oleh Suvarnabhumi Airport Bangkok (3,01 juta kursi), Ninoy Aquino International Airport Manila (2,37 juta kursi), Tan Son Nhat International Airport Ho Chi Minh City (2,19 juta kursi), dan Noi Bai International Airport Hanoi (1,83 juta kursi). Noi Bai mencatat pertumbuhan tercepat di antara 10 besar, yakni 9,3%. Dua bandara Indonesia lainnya, I Gusti Ngurah Rai Bali (1,27 juta kursi) dan Sultan Hasanuddin Makassar (0,94 juta kursi), turut melengkapi daftar. Secara keseluruhan, industri penerbangan Asia Tenggara mengumpulkan total 48 juta kursi, naik 2% dari tahun sebelumnya.

Pencapaian Bandara Soekarno-Hatta jadi bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara [titlebase] menunjukkan daya tahan sektor aviasi nasional. Meski sempat diterpa musibah abu vulkanik, bandara ini mampu bangkit dan mempertahankan posisinya. Pemerintah dan operator bandara terus berkomitmen mengutamakan keselamatan tanpa mengabaikan pertumbuhan. Ke depan, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas dan mitigasi risiko bencana. Namun, dengan fondasi pasar domestik yang kuat, Indonesia berpotensi terus memimpin penerbangan di kawasan.

Sebagai penutup, prestasi ini menjadi cermin bahwa infrastruktur udara Indonesia semakin diperhitungkan di kancah regional. Bandara Soekarno-Hatta jadi bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara [titlebase] bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata kerja keras semua pihak. Ke depan, kolaborasi antara regulator, operator, dan maskapai akan menjadi kunci untuk mempertahankan posisi ini sekaligus meningkatkan pelayanan bagi masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.