Sorot Indonesia – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melalui anak usahanya, PT Surya Dhoho Investama (SDhI), resmi mengambil alih pengelolaan penuh Bandar Udara Dhoho Kediri, Jawa Timur, mulai 1 Oktober 2026. Langkah ini menandai berakhirnya kerja sama operasi (KSO) dengan PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) yang telah berjalan sejak bandara tersebut beroperasi. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP-DJPU 216 Tahun 2026 dan KP-DJPU 217 Tahun 2026 yang diterbitkan pada 25 September 2026, serta Sertifikat Bandar Udara Nomor 0190/SBU/IX/2026.
Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, menyatakan bahwa proses transisi telah dilakukan dengan baik oleh kedua perusahaan sejak Agustus hingga September 2026. “Proses transisi dijalankan InJourney Airports dan SDhI melalui koordinasi langsung dengan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebagai regulator sekaligus Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) untuk memastikan transisi berjalan sesuai ketentuan,” ujarnya, Kamis (1/10/2026). Ia menambahkan bahwa secara resmi per 1 Oktober 2026, Bandara Dhoho Kediri sepenuhnya dioperasikan oleh PT SDhI.
Sebelumnya, pengakhiran KSO disepakati kedua pihak melalui Perjanjian Pengakhiran KSO pada 31 Agustus 2026. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa pengakhiran kerja sama ini dilakukan atas itikad baik kedua belah pihak dan tidak akan mengganggu operasional penerbangan. “Proses transisi pengelolaan dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan kesinambungan tanggung jawab operasional serta pemenuhan persyaratan keselamatan, keamanan, pelayanan, dan sertifikasi,” kata Lukman dalam keterangan pers, Selasa (29/9).
Dalam proses peralihan, Ditjen Hubud menjalankan fungsi sebagai regulator dan PJPK. Tahapan transisi meliputi penyelesaian administrasi, serah terima aset dan dokumen operasional, pengujian sistem penting seperti Safety Management System (SMS), Airport Emergency Plan (AEP), dan Airport Security Programme (ASP), serta memastikan kesiapan personel bandara. SDhI juga telah mengajukan permohonan Sertifikat Standar Badan Usaha Bandara (SS BUBU) untuk dapat beroperasi secara mandiri.
InJourney Airports turut memperkuat pengembangan dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) SDhI melalui proses Technical Advisory di berbagai bidang, termasuk Airport Operations, Airport Safety, Aviation Security, Airport Rescue & Fire Fighting, Airport Engineering & Maintenance, Airport Commercial, Airport Financial, Airport Human Capital, dan Regulatory Compliance. Dukungan ini diharapkan memastikan standar operasional bandara tetap terjaga.
Bandara Dhoho Kediri merupakan proyek strategis nasional yang dibangun dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dengan dioperasikannya bandara ini secara penuh oleh Gudang Garam melalui SDhI, diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur bagian selatan. Gudang Garam sendiri merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang terus melakukan diversifikasi usaha, termasuk di sektor infrastruktur dan transportasi.
Selain fokus pada bandara, Gudang Garam juga menunjukkan komitmennya dalam kegiatan sosial dan budaya. Baru-baru ini, perusahaan menjadi sponsor utama dalam peringatan hari lahir ke-2 Teras Gubuk Kediri yang digelar pada 30 September 2026. Acara puncak di Lapangan Teras Gubuk tersebut menghadirkan grup musik Letto dan Dewa 19 feat Virzha. Pengasuh Teras Gubuk, KH Abdurrahman Al Kautsar (Gus Kautsar), mengapresiasi dukungan Gudang Garam yang telah membantu terselenggaranya rangkaian acara, mulai dari peringatan Maulid Nabi, TG Fun Fest, rihlah ziarah wali, hingga TG Social Care yang meliputi khitan massal, santunan anak yatim, pemeriksaan kesehatan gratis, pembuatan paspor, dan potong rambut gratis.
Di sisi lain, isu swasembada garam nasional juga menjadi perhatian. Indonesia masih bergantung pada garam impor karena produksi dalam negeri hanya berkisar 1–2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 4,5–5 juta ton. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional dengan target swasembada pada 2027. Salah satu proyek besar adalah pengembangan sentra industri garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, seluas 10 ribu hektare dengan target produksi 2 juta ton per tahun. Meski demikian, tantangan seperti kualitas garam rakyat yang baru mencapai NaCl 94 persen dan biaya logistik dari wilayah timur ke Jawa masih menjadi kendala.
Dengan berbagai langkah strategis yang dilakukan, Gudang Garam melalui SDhI diharapkan dapat mengelola Bandara Dhoho secara profesional dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Sementara itu, pemerintah terus berupaya mewujudkan swasembada garam sebagai bagian dari ketahanan industri dalam negeri.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
