Sorot Indonesia – Pasar saham Indonesia mencatat pekan yang penuh tekanan. Saham Hary Tanoe Masuk Top Losers Sepekan MNCN hingga KPIG Anjlok 22 31 Persen menjadi sorotan utama setelah sejumlah emiten yang terafiliasi dengan konglomerat media tersebut mengalami penurunan signifikan. Tekanan ini terjadi seiring melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3,09 persen dalam sepekan, dari 21 hingga 25 September 2026. IHSG ditutup pada level 6.241,89 pada Jumat, 25 September 2026.

PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) mencatat penurunan paling dalam di antara saham grup MNC. Harga saham MSIN merosot 31,03 persen menjadi Rp200 per saham dari sebelumnya Rp290. Penurunan ini menjadikan MSIN sebagai salah satu saham dengan kinerja terburuk di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tersebut.

Baca juga:

PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) juga tidak luput dari tekanan. Saham MNCN melemah 27,66 persen menjadi Rp136 per saham, turun dari posisi pekan sebelumnya Rp188. Penurunan ini memperpanjang tren negatif yang dialami emiten media milik Hary Tanoesoedibjo tersebut.

Selanjutnya, PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) turun 26,47 persen menjadi Rp50 per saham dari Rp68. PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) juga masuk daftar top losers dengan penurunan 25,22 persen menjadi Rp86 dari Rp115 per saham. Keempat saham ini secara kolektif menempatkan Saham Hary Tanoe Masuk Top Losers Sepekan MNCN hingga KPIG Anjlok 22 31 Persen sebagai fenomena pasar yang patut dicermati.

Di luar kelompok saham Hary Tanoe, PT Steady Safe Tbk. (SAFE) menjadi top loser terbesar sepanjang pekan dengan penurunan 40,19 persen dari Rp1.045 menjadi Rp625 per saham. Saham lain yang juga tertekan antara lain SDMU yang turun 26,09 persen menjadi Rp68, JGLE melemah 25 persen menjadi Rp54, COCO turun 23,31 persen menjadi Rp102, YPAS turun 22,39 persen menjadi Rp1.040, serta TRIN turun 22,35 persen menjadi Rp278 per saham.

Tekanan pasar tidak hanya tercermin dari harga saham, tetapi juga dari indikator makro pasar. Kapitalisasi pasar BEI menyusut 3,20 persen menjadi Rp10.905 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian turun 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun, sementara volume transaksi harian justru naik 2,04 persen menjadi 29,20 miliar saham. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun nilai transaksi menurun, aktivitas jual beli tetap tinggi, yang mengindikasikan tekanan jual yang cukup besar.

Investor asing juga mencatatkan net sell sebesar Rp559,16 miliar pada perdagangan Jumat. Secara akumulatif, penjualan bersih investor asing sepanjang tahun 2026 mencapai Rp77,52 triliun. Arus keluar dana asing ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat tekanan di pasar saham domestik, termasuk pada saham-saham grup MNC.

Berikut ringkasan kinerja saham-saham yang masuk daftar top losers sepanjang 21-25 September 2026:

Kode Saham Harga Awal (Rp) Harga Akhir (Rp) Perubahan (%)
SAFE 1.045 625 -40,19
MSIN 290 200 -31,03
MNCN 188 136 -27,66
KPIG 68 50 -26,47
SDMU 92 68 -26,09
BMTR 115 86 -25,22
JGLE 72 54 -25,00
COCO 133 102 -23,31
YPAS 1.340 1.040 -22,39
TRIN 358 278 -22,35

Fenomena Saham Hary Tanoe Masuk Top Losers Sepekan MNCN hingga KPIG Anjlok 22 31 Persen menunjukkan bahwa sentimen pasar secara umum sedang dalam kondisi risk-off. Investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih untuk mengurangi eksposur pada saham-saham yang dianggap memiliki volatilitas tinggi. Selain faktor eksternal seperti arus keluar modal asing, kinerja fundamental emiten juga menjadi perhatian utama.

Dalam situasi seperti ini, investor disarankan untuk lebih cermat dalam menganalisis kinerja emiten, kondisi makroekonomi, serta keterbukaan informasi sebelum mengambil keputusan investasi. Diversifikasi portofolio dan manajemen risiko menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian pasar yang masih berlanjut.

Secara keseluruhan, pekan perdagangan 21-25 September 2026 menjadi periode yang menantang bagi pasar saham Indonesia. Saham Hary Tanoe Masuk Top Losers Sepekan MNCN hingga KPIG Anjlok 22 31 Persen menjadi cerminan betapa cepatnya sentimen negatif menyebar di pasar. Meskipun demikian, koreksi pasar sering kali membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk pada harga yang lebih menarik, asalkan didasari oleh riset yang matang dan pemahaman yang mendalam terhadap risiko.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.