Sorot Indonesia – Pada awal perdagangan Senin, pasar saham Asia menunjukkan penguatan yang signifikan, sementara harga minyak dunia mengalami penurunan tajam. Fenomena ini terjadi seiring dengan rencana damai awal antara Amerika Serikat dan Iran, yang diharapkan dapat meredakan ketegangan global dan menurunkan inflasi.

Sentimen positif ini didorong oleh harapan bahwa kesepakatan antara kedua negara dapat membuka kembali jalur perdagangan energi yang lebih stabil. Hal ini juga berimplikasi pada pengurangan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara agresif oleh bank sentral di berbagai negara.

Baca juga:

Pasar saham di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor untuk mengambil risiko, yang terlihat dari lonjakan indeks-indeks utama di kawasan tersebut.

Sean Callow, seorang analis FX senior dari ITC Markets, mengungkapkan bahwa meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait rincian kesepakatan, pasar tidak terhambat oleh hal tersebut. “Kurangnya rincian terutama terkait kebebasan pelayaran memang menjadi kekhawatiran, tetapi tidak sampai membatasi pasar hari ini karena meningkatnya selera risiko sedang berlangsung,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar minyak menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak dari rencana damai ini. Harga minyak Brent tercatat turun 4,7% menjadi sekitar USD 83,24 per barel, sementara minyak mentah AS anjlok lebih dalam, terjun 5,5% ke level USD 80,16 per barel. Penurunan harga ini dipicu oleh ekspektasi bahwa risiko gangguan pasokan, khususnya di Selat Hormuz, akan mereda.

Baca juga:

Vivek Dhar, analis energi dari Commonwealth Bank of Australia (CBA), menyatakan bahwa mereka memperkirakan harga berjangka Brent bisa jatuh hingga USD 80 pada akhir tahun, dengan catatan bahwa selat tersebut tidak akan ditutup kembali. Meskipun demikian, proyeksi tersebut tetap mengandung ketidakpastian, terutama terkait potensi kerusakan infrastruktur energi di kawasan konflik.

Penurunan harga energi ini berpotensi menjadi faktor penting bagi bank-bank sentral global, yang akan mengadakan serangkaian pertemuan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Harga minyak yang turun dianggap dapat meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Di pasar global, penguatan juga terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Futures EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing naik 1,7%, sementara futures FTSE meningkat 0,7%. Futures S&P 500 dan Nasdaq juga mengalami lonjakan, naik masing-masing 1,1% dan 1,8%. Indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang mencatat kenaikan sekitar 1,5%, dengan Jepang dan Korea Selatan menjadi negara yang paling merasakan manfaat dari turunnya biaya energi ini.

Baca juga:

Dalam hal pergerakan mata uang, dolar AS menunjukkan pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama. Euro naik 0,4% menjadi USD 1,1608, sedangkan poundsterling menguat 0,3% menjadi USD 1,3446. Namun, dolar AS tetap kuat terhadap yen Jepang di level 160,13, meskipun Bank of Japan diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1%.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun turun 6 basis poin menjadi 4,02%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi akan pelonggaran tekanan inflasi. Sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia, dijadwalkan akan menggelar pertemuan kebijakan minggu ini, dengan investor menunggu sinyal arah kebijakan suku bunga dari The Federal Reserve.

Dengan adanya penurunan harga energi, investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini, mengingat tekanan inflasi yang mereda. Sementara itu, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil justru mengalami kenaikan 2,5% menjadi USD 4.322 per ons, mencerminkan meningkatnya permintaan akan aset lindung nilai di tengah pergeseran pasar global.