Sorot Indonesia – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menjadi sorotan publik dengan dua isu penting yang mencakup pengembangan wisata edukasi dan pelanggaran etika oleh mahasiswa kedokteran. Di satu sisi, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Cakrawana Pleret UGM berhasil mengembangkan paket wisata edukasi yang menarik di Monumen Antroposen, Bantul. Di sisi lain, seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP dr Sardjito, juga milik UGM, terlibat dalam kontroversi akibat komentar yang dinilai tidak berempati terhadap pasien.

Paket wisata edukasi yang dikembangkan oleh Tim KKN Cakrawana Pleret di Monumen Antroposen bertujuan untuk memperkenalkan pengelolaan sampah dan inovasi teknologi kepada masyarakat. Monumen ini merupakan kawasan yang mengintegrasikan seni, sains, dan teknologi dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pada 4 Agustus 2026, tim tersebut menggelar sosialisasi paket wisata edukasi di Aula Kalurahan Bawuran yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Lurah Bawuran dan pengelola Monumen Antroposen.

Baca juga:

Paket wisata yang ditawarkan mencakup pelatihan pembuatan ecobrick, kunjungan ke Monumen Antroposen, dan workshop mesin CNC. Melalui pelatihan ecobrick, pengunjung akan belajar mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai guna. Sementara itu, workshop CNC bertujuan untuk memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital dalam menciptakan produk dari material daur ulang. Hal ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, di saat yang sama, UGM juga menghadapi kritik tajam akibat perilaku seorang peserta PPDS, Elda Putri Rahardini, yang terlibat dalam komentar negatif di media sosial tentang seorang pasien BPJS, Yurizal. Komentar tersebut muncul setelah Yurizal mengeluhkan pengalaman buruknya dalam mendapatkan perawatan di rumah sakit. Elda menanggapi keluhan tersebut dengan komentar yang dianggap sinis dan tidak berempati, yang kemudian memicu kemarahan publik.

RSUP dr Sardjito memutuskan untuk menghentikan praktik stase Elda sebagai respons terhadap komentar tersebut. Manajer Hukum dan Humas RSUP dr Sardjito, Banu Hermawan, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah adanya koordinasi dengan UGM. Sementara itu, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK UGM) juga melakukan investigasi terkait dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh Elda. Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata, menekankan pentingnya empati dan komunikasi dalam pelayanan kesehatan.

Dalam kasus ini, UGM menunjukkan komitmennya untuk menegakkan etika profesi dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan kedokteran. Jika terbukti melakukan pelanggaran, UGM akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kedua isu ini menunjukkan bagaimana UGM berperan aktif dalam pengembangan masyarakat sekaligus menghadapi tantangan etika yang kompleks dalam pendidikan kedokteran. Pengembangan paket wisata edukasi di Monumen Antroposen mencerminkan upaya positif UGM untuk berkontribusi terhadap isu lingkungan, sedangkan kasus Elda mengingatkan pentingnya profesionalisme dan etika dalam dunia kesehatan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.