Sorot Indonesia – JAKARTA – Kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia menjadi perhatian serius bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hingga pertengahan Juli 2026, sekitar 72,8% Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan Jawa Tengah menjadi provinsi terparah yang mengalami 80 hari berturut-turut tanpa hujan. Fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengancam sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
Menurut BMKG, meskipun beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Papua masih memiliki potensi hujan, ancaman kekeringan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sangat nyata. Petani di Kabupaten Lebak, Banten, mengadopsi cara baru untuk bertahan hidup di tengah kekeringan dengan beralih dari pertanian padi ke tanaman sayuran yang lebih hemat air, seperti paria dan ketimun. Yana, seorang petani, menyatakan bahwa permintaan pasar untuk sayuran meningkat, dan mereka dapat mengoptimalkan lahan yang tidak ditanami padi akibat kekeringan.
Di sisi lain, di Gunungkidul, Yogyakarta, warga setempat mengandalkan mata air Kali Wonosari sebagai sumber kehidupan saat kekeringan. Meskipun airnya keruh, mata air ini menjadi oase yang penting bagi masyarakat, yang rela antre untuk mengisi jeriken dan galon demi memenuhi kebutuhan air bersih. Aktivitas ini, yang dikenal sebagai ngangsu banyu, menunjukkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan kekeringan.
Kekeringan yang kian parah juga dirasakan di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berada di peringkat ke-4 nasional dalam kejadian kekeringan selama satu dekade terakhir. BNPB mencatat bahwa 206 ribu jiwa di 134 desa terdampak, dan pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat untuk beberapa kabupaten. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan pentingnya kolaborasi untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan yang diprediksi akan meningkat seiring dengan fenomena El Niño.
Sebagai langkah mitigasi, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan 56 ribu unit pompa air yang akan didistribusikan ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa pompanisasi merupakan solusi cepat untuk memastikan pasokan air ke lahan pertanian. Dengan dukungan ini, diharapkan petani dapat menjaga produktivitas meskipun curah hujan menurun dan ancaman kekeringan terus mengintai.
Masyarakat dan pemerintah dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kekeringan. Dari perubahan pola tanam hingga pengelolaan sumber daya air, langkah-langkah ini perlu dilakukan secara terintegrasi untuk memastikan ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih tetap terjaga. Dengan kerja sama antara petani, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan kita dapat mengatasi dampak kekeringan yang semakin nyata.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
