Sorot Indonesia – Di tengah hiruk-pikuk Job Fair Jakarta Selatan yang berlangsung pada 7-8 Juli 2026 di Gedung Nyi Ageng Serang, terungkap kisah pilu penyandang tuli bernama Galuh. Wanita berusia 28 tahun ini mengaku telah melamar pekerjaan ke lebih dari 200 perusahaan, tetapi hingga kini belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Curhat penyandang tuli di job fair Jaksel: 200 kali lamar kerja, tapi belum diterima [titlebase] ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh banyak penyandang disabilitas dalam mencari pekerjaan.

Galuh, yang sebelumnya bekerja sebagai desainer grafis, merasa sangat frustasi dengan minimnya peluang kerja yang tersedia untuk penyandang disabilitas. Meskipun semangatnya untuk bekerja tetap tinggi, ia hanya menemukan tiga perusahaan di Job Fair tersebut yang secara terbuka menerima pelamar penyandang disabilitas. “Saya datang ke sini berharap dapat menemukan pekerjaan baru, tetapi sangat sedikit perusahaan yang bersedia memberikan kesempatan kepada kami,” ujarnya.

Baca juga:

Dalam suasana job fair yang ramai, Galuh terlihat berkeliling dari stan ke stan, didampingi oleh seorang penerjemah bahasa isyarat yang membantunya berkomunikasi dengan para perekrut. Ia tidak hanya mengunjungi perusahaan yang mencantumkan tanda menerima pelamar disabilitas, tetapi juga mencoba keberuntungannya di stan-stan lain, berharap ada peluang yang tersembunyi.

“Saya merasa sangat capek. Setelah melamar 200 kali dan tidak diterima, saya mulai merasa putus asa. Ini adalah kenyataan yang sulit bagi kami, penyandang disabilitas. Kami ingin bekerja dan membuktikan bahwa kami mampu,” ungkap Galuh dengan nada penuh harapan meskipun ada rasa kecewa yang mendalam.

Job Fair Jakarta Selatan kali ini menyediakan sekitar 2.000 lowongan kerja dari 29 perusahaan yang berpartisipasi, termasuk lembaga pelatihan kerja dan informasi tentang peluang kerja di luar negeri. Namun, seperti yang dialami Galuh, banyak penyandang disabilitas masih merasa terpinggirkan dalam proses rekrutmen.

Patricia Heny Dian Anitasari, Plt Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menyediakan lapangan kerja yang setara bagi semua, termasuk penyandang disabilitas. “Kami ingin memastikan bahwa kesempatan kerja yang adil dapat diakses oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki disabilitas,” ujarnya.

Selain menyediakan lowongan kerja, Job Fair ini juga menawarkan layanan konseling karier gratis untuk membantu pencari kerja menentukan pilihan karier yang tepat. Namun, Galuh berharap lebih banyak perusahaan yang mau membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas. “Kami ingin bisa berkontribusi, tetapi perusahaan harus mau memberi kami kesempatan,” tegasnya.

Curhat penyandang tuli di job fair Jaksel: 200 kali lamar kerja, tapi belum diterima [titlebase] menggambarkan betapa pentingnya kesadaran akan kebutuhan inklusi dalam dunia kerja. Dengan semakin banyaknya job fair yang diadakan, diharapkan lebih banyak perusahaan akan membuka pintu bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam dunia kerja dan masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.