Sorot Indonesia – Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di kawasan wisata Stone Garden Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menjadi viral dan menuai berbagai reaksi. Camat setempat menyatakan bahwa keberadaan koperasi ini berada di lokasi strategis, meski banyak yang menilai bahwa proyek ini mengganggu kawasan wisata alam yang sudah ada.

Keberadaan KDMP di tengah hutan, tepatnya di Kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, memicu protes dari pengelola kawasan wisata. Mereka berpendapat bahwa pembangunan ini mengurangi kapasitas parkir dan berpotensi merugikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergantung pada kegiatan wisata. Stone Garden Citatah merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya, sehingga banyak pihak merasa keberatan dengan pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan konsep wisata alam.

Baca juga:

Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bandung Barat, Sukmayadi, mengungkapkan bahwa mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan pembangunan koperasi ini. “Kami merasa keberatan karena tidak ada komunikasi yang baik terkait proyek ini,” ujarnya.

Namun, Camat Cipatat, dalam penjelasannya, menyebutkan bahwa lokasi tersebut memang strategis dan dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu. Ia menegaskan bahwa pembangunan ini akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Koperasi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendukung UMKM di daerah ini,” jelasnya.

Sementara itu, di daerah lain, Koperasi Desa Merah Putih di Pekon Sidokaton, Kabupaten Tanggamus, Lampung, juga viral karena lokasi bangunannya yang dianggap terpencil. Video yang beredar menunjukkan gedung koperasi yang terletak di lereng gunung, dan mengundang banyak komentar dari warganet. Beberapa menyebut lokasi tersebut tidak strategis karena jauh dari permukiman.

Kepala Pekon Sidokaton, Indrio Basuki, membantah narasi tersebut. “Kami ingin mengklarifikasi bahwa lokasi koperasi ini berada di tengah lingkungan warga, bukan di bawah Gunung Tanggamus seperti yang disebutkan. Kami telah melakukan musyawarah desa sebelum menentukan lokasi ini,” ungkapnya.

Letkol Inf Ranoviandy Chairul, Kepala Penerangan Kodam XXI/Radin Inten, juga mendukung penjelasan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pembangunan koperasi ini telah melalui mekanisme Musyawarah Desa yang sah dan tidak merupakan keputusan sepihak. “Kami sudah memeriksa lokasi dan memastikan bahwa bangunan koperasi ini berada di tengah permukiman,” tegasnya.

Video viral yang menunjukkan KDMP berlatar Gunung Tanggamus juga tidak lepas dari interpretasi yang salah. Banyak warganet yang merasa lokasi ini sepi dan tidak layak untuk dibangun. Namun, pihak terkait menegaskan bahwa video tersebut hanya menampilkan sudut tertentu dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Dengan semua kontroversi ini, dua koperasi desa yang berbeda di dua lokasi berbeda menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan perencanaan yang melibatkan masyarakat. Viral penampakan Kopdes Merah Putih dibangun di tengah hutan, Camat sebut lokasi strategis [titlebase] diharapkan menjadi pelajaran bagi pengambil kebijakan dalam proyek pembangunan serupa di masa depan, agar lebih memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.