Sorot Indonesia – Kemlu Iran: Kesepakatan dengan AS hampir final [titlebase]. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan melanjutkan perundingan untuk mencapai kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) sebelum beberapa poin penting dalam nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati terpenuhi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB TV, di mana Qalibaf menjelaskan bahwa ada lima poin utama yang harus diimplementasikan sebelum tahap berikutnya dapat dimulai.

Kelima poin tersebut mencakup penghentian konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon, pencabutan blokade laut yang diterapkan oleh AS, pembukaan kembali Selat Hormuz, penerbitan pengecualian untuk ekspor minyak mentah Iran, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan selama ini. Qalibaf menegaskan, “Jika kelima butir pendahuluan ini tidak dipenuhi, implementasi butir-butir lainnya tidak akan dimulai.”

Baca juga:

Dalam upaya mengakhiri konflik di kawasan, Iran baru-baru ini melakukan kunjungan ke Swiss untuk membahas pelaksanaan poin-poin dalam MoU tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa Iran, AS, dan Lebanon telah sepakat untuk membentuk komite bersama yang bertugas mengawasi gencatan senjata dan menjaga kedaulatan Lebanon.

Meski Iran mengedepankan jalur diplomasi, Qalibaf menegaskan bahwa Iran tetap siap untuk merespons dengan kekuatan jika diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa Iran berkomitmen untuk mencapai kesepakatan, namun tidak akan mengabaikan kepentingan nasionalnya.

Pihak AS juga tampaknya bergerak maju dengan meluncurkan lisensi resmi untuk penjualan minyak dan memproses pencairan aset Iran. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan dalam implementasi MoU, yang ditandatangani oleh kedua negara pada 18 Juni lalu. Iran kini memfokuskan perhatian pada eksekusi teknis yang berdampak langsung pada perekonomian domestik, sembari memastikan bahwa semua ketentuan kesepakatan damai dilaksanakan secara konkret.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Iran akan menghormati komitmennya, asalkan AS juga melakukan hal yang sama. Ia menegaskan pentingnya saling pengertian dalam proses diplomasi dan menyiratkan bahwa Iran tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas jika menghadapi ancaman. Saat ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa belum ada jadwal pertemuan baru untuk negosiasi dengan AS dalam waktu dekat, dengan fokus utama masih pada implementasi MoU.

Dengan perkembangan ini, masa depan hubungan antara Iran dan AS tampak semakin menjanjikan, meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Kesepakatan yang hampir final ini diharapkan dapat membawa stabilitas lebih besar di kawasan dan membuka peluang bagi peningkatan kerjasama ekonomi antara kedua negara.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.