Sorot IndonesiaHarga minyak turun ke level terendah dalam tiga bulan [titlebase] seiring dengan meningkatnya pasokan minyak global dan kemajuan dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pada tanggal 25 Juni 2026, harga minyak Brent tercatat turun 0,9% menjadi US$ 73,10 per barel, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) berada di angka US$ 69,76 per barel. Penurunan ini menandai sesi keempat berturut-turut harga minyak mengalami penurunan.

Baca juga:

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi penurunan harga minyak adalah melimpahnya pasokan dari negara-negara penghasil minyak, khususnya di Timur Tengah dan Afrika. Dengan meningkatnya ketersediaan minyak, harga minyak fisik dari berbagai negara, termasuk Angola dan Uni Emirat Arab, juga mengalami penurunan. Meskipun terdapat ancaman sebelumnya dari ketegangan politik di kawasan tersebut, kini pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Di tengah situasi ini, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengungkapkan bahwa aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan penting bagi minyak dunia, telah kembali mendekati normal. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak telah melintas di bawah pengawasan militer. Hal ini menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani harga minyak kini berangsur menghilang.

Pada saat yang sama, laporan dari Badan Informasi Energi AS menunjukkan bahwa stok minyak di Cushing, Oklahoma, yang merupakan salah satu pusat penyimpanan terbesar di dunia, turun ke level terendah dalam 12 tahun. Meski demikian, penurunan harga tetap terjadi, mencerminkan sentimen pasar yang pesimis. Carl Larry, manajer penjualan di perusahaan analisis pasar energi Enverus, menjelaskan bahwa penurunan ini lebih merupakan refleksi dari sentimen penjual yang berupaya menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang baru.

Baca juga:

Harga minyak turun ke level terendah dalam tiga bulan [titlebase] ini juga dipengaruhi oleh kemajuan dalam negosiasi damai antara AS dan Iran. Meskipun klaim dari kedua belah pihak berbeda, optimisme terhadap tercapainya kesepakatan jangka panjang semakin meningkat. Pembicaraan yang sedang berlangsung mencakup isu-isu sensitif seperti program nuklir dan gencatan senjata di Lebanon.

Dengan kondisi pasokan yang semakin melimpah dan permintaan yang relatif stabil, para analis memperkirakan bahwa harga minyak mungkin akan terus mengalami penurunan dalam waktu dekat. Hal ini tentu akan mempengaruhi berbagai sektor, termasuk transportasi dan industri, yang bergantung pada harga minyak.

Secara keseluruhan, harga minyak yang turun ke level terendah dalam tiga bulan [titlebase] menunjukkan dinamika pasar yang kompleks, di mana faktor geopolitik, ekonomi global, dan keputusan strategis dari produsen minyak berperan penting dalam menentukan arah harga minyak dunia.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.