Sorot Indonesia – Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat dihebohkan dengan pernyataan anggota DPRD yang menyebut ibu-ibu pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ‘gembrot’. Pernyataan ini datang dari Nana Kencanawati, seorang legislator yang kini telah meminta maaf atas ucapannya. Kejadian ini memicu beragam reaksi dari publik, terutama di kalangan ibu-ibu yang merasa dihakimi.
Pada hari Minggu, 21 Juni 2026, ratusan siswa dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Batam, Kepulauan Riau, melakukan aksi pawai sebagai bentuk dukungan terhadap program MBG. Namun, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyatakan bahwa aksi tersebut seharusnya tidak mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah.
“Jangan sampai gerakan-gerakan seperti itu akan berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar, akan mengganggu siswa-siswi kita untuk melaksanakan tugas sesungguhnya mereka yang ada di sekolah,” tegas Lalu di Gedung DPR, Jakarta. Menurutnya, aspirasi siswa seharusnya disampaikan melalui pihak sekolah dan tidak perlu turun ke jalan.
Seiring dengan pernyataan Nana Kencanawati yang viral, banyak pihak mulai menyuarakan pendapat mereka mengenai pentingnya menghargai kritik sebagai bagian dari proses demokrasi. Ibu-ibu yang dijuluki ‘gembrot’ dalam pernyataannya merasa terdiskriminasi dan meminta agar pemimpin lebih sensitif terhadap perasaan masyarakat.
“Kami hanya menyuarakan pendapat kami terkait program yang sangat kami pedulikan. Kami ingin MBG ini berjalan dengan baik dan tidak ada stigma negatif terhadap kami,” ujar salah satu perwakilan ibu-ibu kritik program MBG yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi hal ini, Nana Kencanawati pun akhirnya meminta maaf dan menyatakan bahwa pernyataannya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun. “Saya mohon maaf atas kata-kata yang tidak patut itu. Saya sangat menghargai semua kritik yang membangun,” ucapnya dalam konferensi pers yang diadakan setelah pernyataannya viral.
Sementara itu, aksi siswa mendukung MBG di Batam telah menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk Dinas Pendidikan Kota Batam yang mengonfirmasi adanya pawai tersebut. Lalu Hadrian Irfani menyebutkan bahwa fenomena tersebut mencerminkan kekhawatiran masyarakat akan keberlanjutan program MBG yang dinilai sangat penting untuk peningkatan gizi anak-anak.
“Manfaat MBG ini sebenarnya sangat penting jika dikelola dengan baik. Jika dapur-dapur yang ada betul-betul melaksanakan sesuai dengan standar, juklak, dan juknis yang sudah diberikan oleh BGN,” ujarnya.
Melihat kondisi ini, tak sedikit yang berharap agar insiden ini menjadi pelajaran bagi para politisi untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan publik. Selain itu, masyarakat diharapkan untuk terus menyuarakan pendapat mereka secara konstruktif agar dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan publik.
Dengan pernyataan viral anggota DPRD sebut ibu-ibu pengkritik MBG ‘gembrot’, kini Nana Kencanawati minta maaf [titlebase], diharapkan kedepannya komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat dapat terjalin lebih baik, sehingga tidak ada lagi kata-kata yang menyakitkan dan menjurus pada diskriminasi.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
