Sorot Indonesia – Harga emas melonjak, pasar pangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, seiring dengan sinyal hawkish yang ditunjukkan oleh bank sentral Amerika Serikat. Dalam beberapa minggu terakhir, harga emas mengalami fluktuasi yang signifikan, terutama setelah pertemuan Federal Reserve yang baru-baru ini diadakan. Para investor kini menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh The Fed di masa mendatang.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pernyataannya, menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi, yang berimplikasi pada kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Dalam rapat tersebut, para pembuat kebijakan menunjukkan bahwa sembilan dari 19 anggota melihat kebutuhan untuk meningkatkan suku bunga pada akhir tahun ini. Hal ini menyebabkan dolar AS menguat, sehingga memberi tekanan pada harga emas di pasar global.

Baca juga:

Data terbaru menunjukkan bahwa harga emas spot turun sekitar 0,6% menjadi USD4.232,01 per ons, sedangkan harga emas berjangka AS merosot hingga 3,1% menjadi USD4.245,90. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, yang membuat emas, yang dihargai dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.

Di samping itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk prospek harga emas. Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran mengurangi kekhawatiran inflasi dan menurunkan harga minyak, yang berdampak langsung pada pasar emas. Sejak awal konflik di Timur Tengah, harga emas telah mengalami tekanan karena kekhawatiran terkait inflasi yang ditimbulkan oleh lonjakan harga energi.

Namun, meskipun terdapat penurunan harga, permintaan dari bank sentral global, khususnya dari People’s Bank of China, menunjukkan tren positif. Cina melaporkan penambahan cadangan emas sebesar 23 ton antara Maret hingga Mei 2026, yang lebih tinggi dibandingkan akumulasi selama 12 bulan sebelumnya. Permintaan dari bank sentral ini menjadi salah satu faktor penopang harga emas meskipun minat dari investor retail dan ETF melambat.

Baca juga:

Analisis dari Morgan Stanley menunjukkan bahwa harga emas akan terus menghadapi tantangan di tengah sikap hawkish The Fed. Mereka memperkirakan bahwa tanpa dukungan kuat dari arus masuk dana ke produk exchange-traded fund (ETF), laju kenaikan harga emas akan sulit untuk berlanjut. Saat ini, pasar masih menunggu kepastian mengenai arah kebijakan The Fed, terutama terkait suku bunga yang diperkirakan akan tetap tinggi hingga 2026.

Dalam konteks ini, investor harus cermat dalam mengambil keputusan. Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya kesulitan bersaing ketika suku bunga tinggi. Oleh karena itu, kembali pulihnya minat terhadap ETF emas akan menjadi kunci bagi reli harga emas untuk mencapai level target yang lebih tinggi.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: