Sorot Indonesia – TEHERAN – Dalam perkembangan signifikan di kawasan Timur Tengah, 3 kapal tanker Iran tembus zona blokade AS di Selat Hormuz, bawa 5 juta barel minyak mentah. Ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, yang sebelumnya terpengaruh oleh ketegangan militer yang tinggi.
Setelah beberapa minggu mengalami penutupan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengalami lonjakan. Data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat bahwa sekitar 20 kapal tanker telah melintasi selat yang vital ini sejak pembukaan kembali jalur pelayaran pada 14 Juni 2026. Bahkan, pada hari Kamis (18/6), tercatat 25 kapal melintasi Selat Hormuz, angka tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Menurut laporan, 3 kapal tanker Iran tembus zona blokade AS di Selat Hormuz, bawa 5 juta barel minyak mentah, dan mengaktifkan kembali transponder mereka setelah sebelumnya mematikan perangkat pelacak tersebut selama konflik berlangsung. Lima kapal tanker Iran terlihat meninggalkan kawasan itu pada Jumat, menandakan bahwa perdagangan minyak mentah Iran mulai kembali mendekati pola operasi normal.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Iran telah mematuhi komitmen mereka dalam kesepakatan damai, yang memungkinkan kapal-kapal untuk melintas tanpa membayar biaya selama 60 hari. Lalu lintas kapal menunjukkan keseimbangan yang relatif baik, dengan 13 pelayaran dari barat ke timur dan 12 pelayaran dari timur ke barat.
Peningkatan ini juga terlihat di pelabuhan Korfakkan, Uni Emirat Arab, di mana antrean truk kosong mengular hingga tiga kilometer di luar pelabuhan. Para saksi melaporkan aktivitas bongkar muat kapal kontainer yang meningkat, menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi di kawasan tersebut.
Namun, meskipun situasi mulai membaik, otoritas keamanan laut internasional masih mengingatkan para pelaut untuk tetap waspada terhadap potensi ranjau laut dan sisa-sisa operasi militer yang belum tuntas. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) telah menurunkan status ancaman maritim dari level kritis menjadi moderat.
Dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia, diharapkan akan mengurangi guncangan pada pasar energi global yang sebelumnya terpengaruh oleh ketegangan dan konflik bersenjata di kawasan itu. Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju stabilitas yang lebih luas di Timur Tengah.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, pemulihan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi sinyal positif bagi industri energi global. 3 kapal tanker Iran tembus zona blokade AS di Selat Hormuz, bawa 5 juta barel minyak mentah kini menjadi berita utama yang menunjukkan perubahan arah dalam hubungan internasional di kawasan tersebut.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
